Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa gencatan senjata dengan Iran masih berlaku meskipun kedua negara saling serang di Selat Hormuz baru-baru ini. Trump menilai serangan-serangan Teheran terhadap kapal perang Washington sebagai "hal sepele".
Saat ditanya wartawan apakah gencatan senjata AS dan Iran masih berlaku meskipun ada serangan, seperti dilansir AFP pada Sabtu (9/5/2026), Trump menjawab: "Iya, masih berlaku."
"Mereka (Iran) mempermainkan kita hari ini. Kita menghancurkan mereka. Mereka mempermainkan kita. Saya menyebut itu hal sepele," kata Trump saat berbicara kepada wartawan di sela-sela kunjungan melihat renovasi Lincoln Memorial Reflecting Pool di Washington DC pada Kamis (7/5) waktu AS.
Penegasan Trump itu disampaikan setelah militer AS dan Iran saling serang di Selat Hormuz, dengan kedua negara saling menuduh satu sama lain sebagai yang terlebih dahulu melanggar gencatan senjata. Gencatan senjata yang diberlakukan sejak 8 April lalu itu telah diperpanjang secara sepihak oleh Trump tanpa batas waktu yang ditetapkan.
Pusat Komando AS (CENTCOM) mengatakan pada Kamis (7/5) bahwa pasukan Iran meluncurkan "beberapa rudal, drone, dan kapal-kapal kecil" terhadap tiga kapal perang AS di dekat Selat Hormuz. CENTCOM mengklaim serangan Teheran itu tidak ada yang mengenai sasaran. Diumumkan juga oleh CENTCOM bahwa pasukan AS "menghilangkan ancaman yang datang dan menargetkan fasilitas militer Iran yang bertanggung jawab".
Sementara itu, komando militer pusat Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak Iran dan kapal-kapal lainnya. Teheran juga menuduh Washington menyerang area sipil di Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm di Iran bagian selatan dengan kerja sama "beberapa negara regional". Militer Iran kemudian mengatakan pasukannya "dengan segera dan sebagai balasan, menyerang kapal-kapal militer Amerika".
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), secara terpisah, mengumumkan pasukannya melancarkan serangan rudal dan drone skala besar terhadap kapal-kapal militer AS di dekat Selat Hormuz pada Jumat (8/5). IRGC menyebut serangannya dilancarkan setelah apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Washington.
Tidak hanya itu, Iran juga mengklaim bahwa penilaian intelijen menunjukkan sejumlah kapal militer AS mengalami "kerusakan signifikan" dan tiga kapal perusak AS lainnya mundur dari area Selat Hormuz usai serangan tersebut.
Kekerasan terbaru itu terjadi setelah Trump memunculkan harapan baru akan tercapainya kesepakatan, dengan mengatakan bahwa perjanjian mungkin sudah dekat, meskipun dia juga mengancam akan kembali melakukan pengeboman jika Iran menolak tunduk. Presiden AS itu mempertegas pendiriannya setelah bentrokan terbaru dengan memposting pernyataan via Truth Social yang berbunyi: "Kita akan menghancurkan mereka dengan lebih keras, dan jauh lebih brutal, di masa mendatang, jika mereka tidak menandatangani kesepakatan, SECEPATNYA!"
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran akan mengkomunikasikan posisinya kepada mediator Pakistan "setelah menyelesaikan pandangannya".



