Arab Saudi dan Kuwait Cabut Pembatasan Akses Militer AS
Arab Saudi dan Kuwait secara resmi mencabut pembatasan akses yang sebelumnya diberlakukan terhadap militer Amerika Serikat (AS) terkait penggunaan pangkalan militer dan wilayah udara mereka. Kedua negara ini merupakan bagian dari sejumlah negara Teluk yang menampung aset militer AS, yang kini terseret dalam konflik Timur Tengah yang memanas.
Pembatasan tersebut sebelumnya diterapkan oleh otoritas Saudi dan Kuwait setelah peluncuran operasi militer AS yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz. Aktivitas pelayaran di jalur perairan strategis ini sempat dibatasi akibat perang yang berkecamuk sejak akhir Februari lalu.
Wapres Iran: Kemenangan Besar Akan Segera Dirayakan
Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, menyatakan bahwa negaranya akan segera merayakan kemenangan besar melawan musuh-musuhnya. Hal ini disampaikan setelah bertahun-tahun tekanan internasional dan pencabutan sanksi yang menjerat Teheran. "Rakyat Iran adalah pemenang Perang Ramadan," ujar Aref saat berkunjung ke Grup Pelayaran Republik Islam Iran, seperti dilansir Press TV, Jumat (8/5/2026).
Aref, yang menjabat sebagai Wakil Presiden Pertama Iran, menggunakan istilah "Perang Ramadan" untuk merujuk pada konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu, yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Iran Serang Kapal Militer AS di Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan rudal dan drone skala besar terhadap kapal-kapal militer AS di dekat Selat Hormuz pada Jumat (8/5). IRGC menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan menggempur kapal tanker dan area sipil di wilayah Iran bagian selatan.
Juru bicara markas besar militer Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa AS menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran yang bergerak dari perairan pesisir Iran di dekat pelabuhan Jask menuju Selat Hormuz, serta kapal-kapal Iran lainnya di dekat pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab.
AS Pertimbangkan Lanjutkan Project Freedom Hormuz
Setelah Arab Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan, Amerika Serikat mempertimbangkan untuk melanjutkan kembali Project Freedom di Selat Hormuz, yang sebelumnya dihentikan sementara oleh Presiden Donald Trump. Misi ini bertujuan memandu kapal-kapal dari negara netral untuk melintasi Selat Hormuz secara aman.
Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) yang dikutip TRT World, pemerintahan Trump bersiap memulai kembali operasi pengawalan militer terhadap kapal komersial dengan dukungan Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS.
Trump Ogah Bayar Mahal Tiket Piala Dunia
Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan membayar harga tiket lebih dari US$ 1.000 (sekitar Rp 17,3 juta) untuk menonton pertandingan Piala Dunia di AS. Pernyataan ini menambah tekanan pada FIFA terkait harga tiket yang dinilai sangat mahal.
"Saya tidak tahu angka tersebut," kata Trump dalam wawancara dengan New York Post, seperti dilansir AFP, Jumat (8/5/2026).



