Tiga orang peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti pendidikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil). Penyebabnya rata-rata karena penyakit. Korps Marinir TNI AL menjelaskan rutinitas peserta latsarmil yang dilakukan anggota SPPI calon pengelola Koperasi Merah Putih.
Rutinitas Latihan Dasar Kemiliteran
Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak Letkol (Mar) Agus Mutaqin mengatakan kegiatan para peserta dibuka dengan bangun pagi pukul 04.30 WIB. "Kemudian melaksanakan ibadah salat Subuh. Selanjutnya kami lanjutkan kegiatan olahraga, pembinaan fisik, kemudian dilanjutkan makan pagi," kata Agus saat ditemui awak media di markas Marinir, Cilandak, Jakarta Timur, Kamis (25/6/2026).
Setelah makan pagi, para peserta mengikuti kegiatan apel pagi, dilanjutkan baris berbaris dan masuk ke kelas untuk mengikuti materi. Setelah materi kelas sampai sore, para peserta diajak mengikuti kegiatan "pengasuhan" oleh para pelatih. "Pengasuhan adalah pemberian bekal-bekal, salah satunya mungkin pengenalan lingkungan, kemudian etika selama di sini, sikap PBB, dan sebagainya. Termasuk bekal-bekal keseragaman dan kekompakan," jelas Agus. Setelah itu peserta diizinkan istirahat, salat, dan makan, lalu beristirahat pukul 21.30 WIB. Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan dengan bimbingan para pelatih dari Korps Marinir.
Hukuman dan Penghargaan Non-Militer
Pelatih juga menerapkan pemberian hukuman dan penghargaan untuk peserta yang melanggar peraturan atau berprestasi selama pendidikan. Hukuman yang diberikan tidak disesuaikan dengan standar kemiliteran pada umumnya, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan para peserta. Tujuannya untuk meningkatkan jiwa disiplin dan semangat peserta. Hingga saat ini, seluruh rangkaian pendidikan latsarmil masih berjalan aman dan kondusif.
Korban Ketiga Meninggal karena Tuberkulosis
Jumlah peserta SPPI yang meninggal bertambah menjadi tiga orang. Korban terbaru adalah Novia Rahmadhani Sihotang, peserta calon pengelola Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP). Kementerian Pertahanan (Kemhan) membenarkan kabar tersebut. "Benar, Kementerian Pertahanan telah menerima laporan mengenai meninggalnya salah satu peserta Program SPPI KNMP Tahun 2026 atas nama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Kemhan menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhumah," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026).
Rico menjelaskan Novia mengalami gangguan kesehatan saat menjalani latsarmil pada Senin, 22 Juni 2026. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa untuk perawatan medis, namun kondisinya terus menurun hingga dinyatakan meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026. "Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB)," ujar Rico.
Dua Korban Sebelumnya: Heat Stroke dan Henti Jantung
Sebelumnya, dua peserta lain, Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, juga meninggal saat menjalani pendidikan. Menurut Rico, Anisa meninggal akibat heat stroke saat mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Sementara Yonanda meninggal saat mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja. Ia sempat mengalami penurunan kondisi fisik pada 17 Juni 2026 dan dirujuk ke rumah sakit. "Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung," kata Rico.
Evaluasi Kemhan untuk Keselamatan Peserta
Kemhan menyatakan seluruh peserta latsarmil telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum pendidikan. Peserta yang mengalami gangguan kesehatan selama pelatihan juga telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur. Meski demikian, Kemhan memastikan akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan latsarmil guna meningkatkan aspek keselamatan dan pengawasan kesehatan peserta. "Saat ini Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan terus melakukan evaluasi dan penguatan pengawasan kesehatan peserta guna memastikan keselamatan dan kesehatan peserta tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program," ujar Rico.



