Kemlu Soroti Aksi Pemuda Madiun Kabur Saat Tur di Korea Selatan
Kemlu Soroti Aksi Pemuda Madiun Kabur Saat Tur Korsel

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyoroti kaburnya seorang peserta tur asal Madiun, Femas (21), saat mengikuti open trip ke Korea Selatan. Aksi Femas yang meninggalkan rombongan wisata dinilai melanggar ketentuan keimigrasian setempat dan merugikan upaya pemerintah memperluas kemudahan mobilitas warga negara Indonesia (WNI) ke luar negeri.

Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, menyatakan pihaknya mencermati pemberitaan mengenai oknum WNI berinisial FY yang diduga menyalahgunakan fasilitas kemudahan masuk ke Korea Selatan. "Sebagaimana disampaikan Duta Besar RI di Seoul, Pemerintah RI bersama KBRI Seoul terus mengupayakan peningkatan kemudahan mobilitas masyarakat antara Indonesia dan Korea Selatan," ujar Heni saat dihubungi, Sabtu (18/7/2026).

Kemlu Sesalkan Tindakan Tak Bertanggung Jawab

Kemlu menyayangkan tindakan oknum yang diduga menyalahgunakan fasilitas travel tur ke luar negeri. Heni menyinggung soal kepatuhan WNI saat melakukan perjalanan di negara lain. "Tindakan segelintir oknum yang menyalahgunakan fasilitas tersebut sangat disayangkan dan tidak mencerminkan mayoritas WNI yang melakukan perjalanan secara sah dan bertanggung jawab," tambahnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurut Heni, kepatuhan setiap WNI menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan otoritas negara mitra serta mendukung upaya pemerintah untuk terus memperluas kemudahan mobilitas bagi masyarakat Indonesia. Kemlu bersama KBRI Seoul akan terus berkoordinasi dengan otoritas Korea Selatan dan mengimbau seluruh WNI agar menaati ketentuan yang berlaku.

Kronologi Kaburnya Femas

Marketing Manager Berani Backpacker, Wiky, menjelaskan rombongan berangkat dari Jakarta pada 27 Juni 2026. Pada malam pertama tur, 28 Juni 2026, peserta diberikan waktu bebas. Sekitar lima sampai tujuh orang bersama tour leader (TL) berjalan-jalan di kawasan Myeongdong. Di lokasi tersebut, Femas berpamitan dengan alasan ingin mencari sepatu.

Femas ditempatkan satu kamar dengan tour leader. Ketika TL kembali ke hotel, ia mengirim pesan singkat agar Femas langsung masuk ke kamar karena pintu sengaja diganjal. "Ditunggu sampai pagi ternyata tidak pulang sama sekali. WhatsApp sempat centang satu, kadang centang dua, tapi tidak pernah dibalas," ujar Wiky.

Awalnya agensi travel mengira Femas tersesat. Tour leader bersama tim menyisir area tempat Femas berpamitan dan menghubunginya berkali-kali. "Sampai hari keempat, tim lokal kami langsung mencoba membuat laporan ke Kepolisian Korea. Namun, laporannya ditolak karena tidak ada unsur tindak pidana. Dia (Femas) dikategorikan memisahkan diri secara sadar, bukan sebagai orang hilang," jelas Wiky.

Pihak travel juga melapor ke Imigrasi. Namun, proses penanganan baru bisa dilakukan setelah masa izin tinggal peserta tersebut habis. "Imigrasi menyampaikan akan memproses setelah masa stay-nya habis. Masa stay kan cuma 15 hari, sebenarnya visa dia sudah overstay sejak 12 Juli 2026," beber Wiky.

Keluarga Terkejut dan Dibebani Tagihan

Ibu Femas, MT (56), mengaku terkejut dengan kabar putranya. Ia bahkan tidak mengetahui Femas berangkat ke Korea Selatan. MT baru mendapat kabar setelah didatangi pihak biro travel pada 15 Juli 2026. "Saya dapat kabar dari pihak yang ngaku dari travel datang ke rumah, kalau ndak salah tanggal 15 Juli kemarin. Katanya anak saya kabur," ujar MT.

Pihak Berani Backpacker meminta MT bertanggung jawab atas kerugian yang dialami biro travel senilai Rp 50 juta. "Saya uang dari mana dimintai uang banyak. Bisa buat makan sehari-hari saja alhamdulillah," ungkap MT. MT yang merupakan orang tua tunggal sejak 2018 bekerja sebagai pekerja serabutan di pabrik porang musiman, dengan penghasilan bersih-bersih rumah orang sehari Rp 60 ribu.

Wiky mengungkapkan sebelum keberangkatan Femas tidak menunjukkan gelagat mencurigakan. Ia bahkan datang langsung ke kantor Berani Backpacker di Surabaya untuk memastikan legalitas travel. "Dia datang ke kantor, tanya-tanya soal trip, bahkan sempat ngobrol juga. Jadi kami menilai dia memang serius ikut trip," ungkapnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga