Warga Iran Bersiap Hadapi Ultimatum Trump, Khawatir Serangan Infrastruktur Energi
Warga Iran Siap Hadapi Ultimatum Trump Soal Infrastruktur

Warga Iran Bersiap Hadapi Ultimatum Trump, Khawatir Serangan Infrastruktur Energi

Warga Iran mulai bereaksi terhadap ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang bertekad menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di negara itu jika Selat Hormuz tidak dibuka. Dalam unggahan media sosial pada Minggu, Trump menulis dengan kata-kata kasar: "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya sekaligus, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!!" Tenggat waktu yang ditetapkan Trump adalah pukul 20:00 Waktu Timur pada Selasa, 07 April 2026.

Reaksi Pejabat dan Warga Iran

Para pejabat Iran mengejek ultimatum tersebut. Seorang ajudan presiden menyebut pernyataan Trump sebagai "hinaan dan omong kosong" yang lahir dari keputusasaan dan kemarahan semata. Sementara itu, BBC berhasil berbicara dengan sejumlah warga Iran yang menentang pemerintahan saat ini, meski sulit menghubungi orang di dalam negeri akibat pemadaman internet yang telah berlangsung lebih dari lima minggu. Untuk keselamatan, nama-nama mereka diubah.

Kasra, pemuda berusia 20-an dari Teheran, mengungkapkan kekhawatirannya: "Rasanya seperti kami tenggelam semakin dalam ke rawa-rawa. Apa yang bisa kami lakukan sebagai orang biasa? Kami tidak bisa menghentikannya [Trump]. Saya terus membayangkan skenario di mana, sebulan lagi, saya duduk bersama keluarga tanpa air, tanpa listrik, tanpa apa-apa."

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kekhawatiran atas Pasokan dan Dampak Ekonomi

Meski televisi pemerintah Iran menayangkan video toko kelontong penuh stok, BBC mendengar bahwa sebagian warga mulai menimbun persediaan. Mina, juga dari Teheran, berkata: "Ibu saya mengisi setiap botol yang bisa dia temukan di rumah dengan air. Saya pikir semakin banyak orang di Iran yang menyadari bahwa Trump sama sekali tidak peduli pada mereka."

Banyak warga yang diwawancarai awalnya melihat serangan AS-Israel sebagai bantuan yang dijanjikan Trump saat demonstrasi anti-pemerintah pada Januari lalu. Namun, kini mereka menilai serangan terhadap infrastruktur energi sebagai garis merah. Arman, pemuda dari Karaj, menyatakan: "Saya sudah berterima kasih kepada Israel dan AS atas hampir semua target yang mereka hancurkan sejauh ini. Tapi menghantam pembangkit listrik hanya akan melumpuhkan negara dan menguntungkan Republik Islam."

Media Iran melaporkan 13 orang tewas dan hampir 100 terluka ketika jembatan di Karaj dibom pada Kamis. Radin dari Teheran menambahkan: "Jika menyerang target di negara ini bisa menjatuhkan Republik Islam, saya tidak keberatan. Karena jika Republik Islam bertahan dari perang ini, dia akan bertahan selamanya."

Dampak Ekonomi dan Akses Internet

Kekhawatiran akan dampak ekonomi perang juga mengemuka. Bahman, insinyur pengawas bangunan di Teheran, mengatakan: "Saya sudah tidak punya rutinitas lagi, bahkan tidak bisa bekerja karena tidak ada yang membangun apa pun saat ini. Beberapa perusahaan kecil sudah mulai memberhentikan karyawan." Jamshid, pengelola restoran di Teheran, mengeluh tentang sewa yang memberatkan sebesar 200 juta toman per bulan, jauh di atas rata-rata gaji bulanan $200-$300.

Akses internet tetap menjadi masalah besar. Warga harus membayar harga tinggi untuk data, dengan jalur utama melalui berbagi koneksi Starlink yang ilegal dan berisiko hukuman penjara. Marjan dari Teheran mengungkapkan tekanan mental: "Saya merasa seperti kehilangan akal. Apa gunanya kalau Trump menghantam infrastruktur energi? Saya tertekan dan orang tua saya bertengkar soal hal-hal kecil."

Iran melaporkan lebih dari 30 universitas terdampak perang, termasuk Universitas Shahid Beheshti di Teheran. Situasi ini memperlihatkan betapa warga Iran, meski menentang pemerintah, juga khawatir akan konsekuensi serangan AS yang bisa memperparah kondisi hidup mereka.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga