Wapres AS JD Vance Pimpin Negosiasi Gencatan Senjata AS-Iran di Islamabad
Wapres AS Pimpin Negosiasi Gencatan Senjata AS-Iran di Islamabad

Wapres AS JD Vance Pimpin Negosiasi Gencatan Senjata AS-Iran di Islamabad

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance telah mendarat di pangkalan udara Nur Khan, dekat Islamabad, ibu kota Pakistan, pada Sabtu (11/4) waktu setempat. Vance diutus oleh Presiden Donald Trump untuk memimpin delegasi AS dalam negosiasi dengan Iran, dengan tujuan membahas finalisasi gencatan senjata guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama enam pekan terakhir.

Sambutan dan Persiapan Perundingan

Setelah mendarat, Vance disambut oleh kepala militer Pakistan yang berpengaruh, Asim Munir, yang mengantarnya menyusuri karpet merah di pangkalan udara tersebut. Di tempat itu, Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, sudah menunggu kedatangannya. Pakistan bertindak sebagai tuan rumah dan mediator dalam perundingan lanjutan ini, setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu pada Selasa (7/4) waktu setempat.

Delegasi Iran, yang dipimpin oleh ketua parlemen negara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf, tiba lebih dulu pada Jumat (10/4) malam dan juga disambut oleh Munir. Perundingan ini digelar dalam suasana tegang, di mana kedua negara masih memiliki perbedaan pendapat mendasar soal tuntutan utama dalam gencatan senjata dan saling menunjukkan ketidakpercayaan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pernyataan dan Tantangan dari Pihak Terlibat

Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran terdiri atas lebih dari 70 orang, menyatakan bahwa Teheran memiliki niat baik dalam menghadiri perundingan ini. Namun, dia mengungkapkan skeptisisme, dengan mengatakan, "Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak saling percaya. Pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan Amerika selalu berakhir dengan kegagalan dan janji-janji yang tidak ditepati," seperti dikutip dari televisi pemerintah Iran.

Sebelum perundingan, muncul tanda tanya mengenai syarat yang diajukan delegasi Iran. Teheran menegaskan bahwa gencatan senjata selama dua minggu harus diterapkan juga di Lebanon, di mana Israel masih melancarkan pengeboman terhadap Hizbullah yang didukung Iran. Selain itu, Iran menyerukan agar pembekuan aset-asetnya di luar negeri karena sanksi AS segera dicabut.

Di sisi lain, Vance menunjukkan kewaspadaan dalam komentarnya kepada wartawan sebelum bertolak ke Pakistan. "Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan terbuka," ucapnya. "Jika mereka berusaha mempermainkan kami, maka mereka akan mendapati tim negosiasi yang tidak begitu responsif," tambahnya sebagai peringatan kepada Iran.

Kerapuhan Gencatan Senjata dan Pandangan Pakistan

Gencatan senjata sementara yang disepakati AS-Iran dinilai sangat rapuh, terutama dengan Israel yang terus menggempur Lebanon, markas kelompok Hizbullah. Tel Aviv dan Washington menegaskan bahwa gencatan senjata tidak mencakup Lebanon, sementara Teheran dan Islamabad menyatakan sebaliknya, menambah kompleksitas situasi.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengingatkan bahwa ada "tahap yang lebih sulit di depan", dengan menyebut kemajuan dalam perundingan akan membutuhkan kerja keras yang signifikan. Dia menegaskan bahwa perundingan di Islamabad ini akan menjadi "penentu keberhasilan atau kegagalan" dalam upaya mencapai perdamaian yang berkelanjutan.

Dengan latar belakang ketegangan dan ketidakpercayaan yang mendalam, negosiasi ini diharapkan dapat membawa titik terang, meskipun tantangan besar masih menghadang di depan. Kedua delegasi kini bersiap untuk pembicaraan intensif yang mungkin menentukan masa depan hubungan AS-Iran dan stabilitas kawasan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga