Trump Pertimbangkan Pendudukan Pulau Kharg untuk Tekan Iran di Selat Hormuz
Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan rencana kontroversial untuk menduduki atau memblokade Pulau Kharg di Iran. Rencana ini bertujuan menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global.
Rencana Invasi dalam Satu Bulan
Menurut laporan media AS Axios yang dikutip Al Jazeera, Jumat (20/3/2029), salah satu sumber menyatakan, "Kita butuh sekitar satu bulan untuk lebih melemahkan Iran dengan serangan, merebut pulau itu, dan kemudian mengendalikan mereka dan menggunakannya untuk negosiasi." Pulau Kharg merupakan pusat ekspor minyak Iran yang menangani sekitar 90% dari total ekspor minyak negara tersebut.
Serangan gabungan AS dan Israel sebelumnya telah menargetkan instalasi militer di pulau itu. Namun, invasi darat berisiko tinggi karena akan menempatkan pasukan AS dalam jangkauan serangan langsung Iran. Militer AS dikabarkan telah menyetujui pengerahan pasukan tambahan ke wilayah tersebut di tengah eskalasi konflik dengan Iran.
Keputusan Belum Final tapi Ancaman Nyata
Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengonfirmasi kepada Axios bahwa keputusan invasi pantai belum dibuat, tetapi opsi itu sangat mungkin. "Jika [Trump] memutuskan untuk melakukan invasi pantai, itu akan terjadi. Tetapi keputusan itu belum dibuat," kata pejabat tersebut mengenai rencana membuka kembali Selat Hormuz.
Trump sebelumnya telah mengklaim bahwa militer AS telah membombardir target militer di Pulau Kharg. Dalam pernyataan di media sosial, Sabtu (14/3), ia menyebut, "Komando Pusat Amerika Serikat melakukan salah satu serangan bom paling dahsyat dalam sejarah Timur Tengah, dan benar-benar menghancurkan setiap target MILITER di permata mahkota Iran, Pulau Kharg." Ia juga mengancam akan menyerang infrastruktur minyak pulau tersebut lebih lanjut.
Ancaman Balasan dari Militer Iran
Angkatan Bersenjata Iran langsung merespons dengan ancaman keras. Markas Besar Pusat Al-Anbiya pada militer Iran, dalam pernyataan yang dilaporkan kantor berita Fars dan Tasnim, Sabtu (14/3), menyatakan bahwa infrastruktur minyak dan energi milik perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan AS akan "segera dihancurkan dan diubah menjadi timbunan abu" jika fasilitas energi Iran diserang.
Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap klaim Trump tentang serangan AS yang telah "menghancurkan" target militer di Pulau Kharg. Situasi ini meningkatkan ketegangan di kawasan yang sudah rawan konflik, dengan potensi dampak besar pada pasokan minyak global dan stabilitas keamanan.



