Permintaan Trump untuk Amankan Selat Hormuz Belum Direspons Positif oleh Sekutu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengajukan permintaan kepada sejumlah negara sekutu untuk membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi pusat ketegangan antara AS-Israel dan Iran. Namun, hingga saat ini, belum ada satu pun sekutu yang secara resmi menyetujui permintaan tersebut, menciptakan situasi yang semakin kompleks di kawasan tersebut.
Blokade Iran Ganggu Lalu Lintas Tanker Minyak Dunia
Trump menyebutkan bahwa pihaknya telah menghubungi tujuh negara untuk mengawal kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, yang sebagian besar diblokir oleh Iran. Blokade ini telah mengganggu lalu lintas tanker minyak dunia, mengancam pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dari Teluk, dan gangguan di sini berpotensi memicu krisis ekonomi internasional.
Presiden AS menekankan bahwa negara-negara yang bergantung pada minyak dari Teluk memiliki tanggung jawab untuk melindungi wilayah strategis ini. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan, "Saya menuntut negara-negara tersebut ikut melindungi wilayah mereka sendiri karena itu adalah wilayah mereka. Ini tempat mereka mendapatkan energi." Pernyataan ini disampaikan saat ia berbicara kepada wartawan di Air Force One dalam perjalanan dari Florida ke Washington pada Minggu, 15 Maret 2026, seperti dikutip dari CNN.
Tanggapan Sekutu Masih Ditunggu
Meskipun permintaan telah diajukan, respons dari negara-negara sekutu masih belum jelas. Hal ini menunjukkan tantangan diplomasi AS dalam membangun koalisi untuk mengatasi ancaman dari Iran. Konflik AS-Israel melawan Iran telah memanas dalam beberapa waktu terakhir, dengan Selat Hormuz menjadi titik fokus ketegangan.
Para analis memperkirakan bahwa ketidakpastian ini dapat memperpanjang krisis, sementara dunia menunggu langkah konkret dari sekutu AS. Perlindungan Selat Hormuz tidak hanya penting untuk stabilitas energi global, tetapi juga untuk keamanan regional di Timur Tengah.
