Trump Klaim China Senang AS Buka Selat Hormuz, Iran Ancam Tenggelamkan Kapal AS
Trump Klaim China Senang AS Buka Selat Hormuz, Iran Ancam

Trump Klaim China Dukung Pembukaan Selat Hormuz, Iran Balas dengan Ancaman Militer

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan melalui media sosial Truth Social pada Kamis (16/4/2026), mengklaim bahwa pemerintah China "sangat senang" dengan upaya Washington untuk membuka kembali Selat Hormuz secara permanen. Selat strategis yang menjadi jalur vital pasokan energi global ini sebelumnya diblokade oleh Iran selama enam minggu konflik bersenjata.

Klaim Trump yang Belum Dikonfirmasi Beijing

Dalam pernyataannya yang dilansir oleh The Hill dan Independent.co.uk, Trump tidak hanya menyebut dukungan China tetapi juga mengklaim bahwa sebagai imbalan, Beijing telah setuju untuk menghentikan pengiriman senjata ke Iran. "China sangat senang dengan apa yang kami lakukan di Selat Hormuz. Mereka bahkan berjanji tidak akan lagi mengirim senjata ke Iran," ujar Trump. Namun, klaim sepihak dari Presiden AS ini belum mendapatkan konfirmasi resmi dari otoritas China, menimbulkan pertanyaan tentang validitas pernyataan tersebut.

Iran Ancam Tenggelamkan Kapal-Kapal AS

Sementara itu, dari pihak Iran muncul respons keras terhadap upaya AS. Mohsen Rezaei, mantan panglima tertinggi Garda Revolusi Iran yang kini menjabat sebagai penasihat militer pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, memberikan peringatan tegas. "Jika Washington memutuskan untuk mengatur jalur pelayaran di Selat Hormuz, kapal-kapal AS akan ditenggelamkan oleh rudal-rudal kami," kata Rezaei seperti dilansir AFP.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Rezaei secara terbuka mempertanyakan hak AS untuk bertindak sebagai "polisi" di perairan internasional tersebut. "Apakah ini benar-benar tugas Anda? Apakah ini tugas tentara yang kuat seperti AS?" tanyanya dengan nada menantang. Ancaman ini muncul setelah AS memberlakukan blokade militer di sekitar Selat Hormuz atas perintah Trump, menyusul blokade sebelumnya oleh Iran yang memicu ketegangan regional.

Berita Internasional Lain yang Menarik Perhatian

Selain ketegangan di Selat Hormuz, berikut perkembangan internasional penting lainnya pada hari yang sama:

  1. Penolakan AS terhadap Proposal Rusia: Kremlin mengungkapkan bahwa Amerika Serikat menolak tawaran Moskow untuk mengambil alih kepemilikan uranium yang diperkaya Iran sebagai solusi diplomatik. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut proposal Presiden Vladimir Putin sebagai "solusi yang sangat baik" yang sayangnya ditolak Washington.
  2. Klaim Dialog Israel-Lebanon: Donald Trump mengumumkan bahwa pemimpin Israel dan Lebanon akan melakukan dialog pada Kamis (16/4) waktu setempat, yang disebutnya sebagai pertemuan pertama dalam 34 tahun terakhir. Namun, otoritas Beirut menyatakan "tidak mengetahui" adanya jadwal kontak langsung dengan Tel Aviv dalam waktu dekat.
  3. Kegagalan Pembatasan Wewenang Perang Trump: Mayoritas Senator AS dari Partai Republik berhasil menggagalkan resolusi yang diajukan Partai Demokrat untuk membatasi wewenang perang Presiden Trump. Hasil voting 52-47 ini menggarisbawahi dukungan berkelanjutan Partai Republik terhadap kebijakan militer Trump di Timur Tengah.

Implikasi Ketegangan yang Berlanjut

Ketegangan di Selat Hormuz mencerminkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks di Timur Tengah. Klaim Trump tentang dukungan China, jika terbukti benar, dapat mengindikasikan pergeseran aliansi regional. Sementara ancaman Iran menunjukkan kesiapan Teheran untuk melawan intervensi AS di perairan yang mereka anggap vital bagi kepentingan nasional.

Blokade sebelumnya oleh Iran yang berlangsung selama enam minggu, diikuti gencatan senjata dua minggu yang rapuh, telah menciptakan ketidakstabilan di jalur pasokan energi global. Respons militer AS dan ancaman balasan Iran meningkatkan risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas regional dan ekonomi global.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga