Clara Shinta Ungkap Trauma dan Kecemasan Pasca Dugaan Perselingkuhan Suami
Clara Shinta Trauma Pasca Dugaan Perselingkuhan Suami

JAKARTA — Selebgram dan pengusaha produk kecantikan, Clara Shinta, secara terbuka mengungkapkan kondisi mentalnya yang sangat terguncang pasca mengetahui dugaan perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya, Muhammad Alexander Assad. Pengakuan ini disampaikan oleh perempuan bernama lengkap Elisabeth Clara Shinta Aritonang saat ditemui di kantor Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas PA) pada Kamis, 16 April 2026.

Trauma dan Kecemasan yang Mendalam

Clara Shinta menjelaskan bahwa peristiwa dugaan perselingkuhan tersebut telah meninggalkan trauma yang mendalam dalam dirinya. Ia mengaku bahwa dalam kehidupan sehari-hari, rasa cemas sering kali muncul tanpa bisa dikendalikan, mengganggu kesejahteraannya secara keseluruhan. "Kalau trauma pastilah. Hilangnya kepercayaan terhadap suami itu juga menjadi salah satu alasan saya untuk berpisah. Karena dilanjutkan lagi juga saya sudah enggak percaya," ujar Clara dengan suara lirih.

Dampak pada Kehidupan Pribadi

Pemilik bisnis kecantikan ini menekankan bahwa hilangnya kepercayaan terhadap suaminya menjadi faktor utama yang mendorong keputusannya untuk berpisah. Ia merasa bahwa melanjutkan hubungan tersebut sudah tidak mungkin lagi mengingat betapa rapuhnya fondasi kepercayaan yang telah hancur. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi aspek emosionalnya, tetapi juga berdampak pada stabilitas mental dan kesehariannya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dalam pertemuan di Komnas PA, Clara Shinta juga sempat membahas mengenai masalah lain yang dihadapinya, termasuk keluhan bahwa mantan suaminya tidak pernah memberikan nafkah untuk anak mereka. Hal ini semakin memperburuk beban psikologis yang ia tanggung, menambah kompleksitas situasi yang sudah penuh dengan gejolak emosi.

Pentingnya Dukungan dan Pemulihan

Pengakuan Clara Shinta ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, terutama dalam menghadapi konflik rumah tangga yang berat. Trauma akibat perselingkuhan dan ketidakpastian finansial dapat meninggalkan luka yang dalam, memerlukan dukungan profesional dan lingkungan yang memahami. "Rasa cemas kerap muncul tanpa bisa dikendalikan," tambahnya, menggambarkan betapa seriusnya dampak yang ia alami.

Dengan mengungkapkan pengalamannya secara terbuka, Clara Shinta berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu-isu serupa, sekaligus mencari solusi dan dukungan yang tepat untuk pemulihan dirinya dan keluarganya. Kasus ini juga mengingatkan betapa krusialnya peran lembaga seperti Komnas PA dalam memberikan perlindungan dan pendampingan bagi mereka yang mengalami tekanan psikologis akibat konflik domestik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga