Trump Diam-Diam Incar Ketua Parlemen Iran Ghalibaf Sebagai Pemimpin Masa Depan
Trump Incar Ghalibaf Jadi Pemimpin Iran, Ada Negosiasi Rahasia?

Trump Diam-Diam Incar Ketua Parlemen Iran Ghalibaf Sebagai Pemimpin Masa Depan

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara diam-diam mempertimbangkan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai calon mitra dan bahkan pemimpin masa depan Iran. Hal ini terungkap dalam laporan media yang mengutip sumber-sumber dalam Gedung Putih, menunjukkan upaya AS untuk mencari jalan keluar dari konflik yang berkepanjangan.

Ghalibaf Dipandang Sebagai Mitra yang Dapat Diandalkan

Menurut laporan dari Politico yang dilansir oleh Anadolu Agency pada Selasa (24/3/2026), setidaknya beberapa pejabat di Gedung Putih memandang Ghalibaf sebagai figur yang dapat diandalkan. Mereka percaya bahwa ia memiliki potensi untuk memimpin Iran dan bernegosiasi dengan pemerintahan Trump dalam fase selanjutnya dari perang tersebut.

"Dia adalah pilihan yang menarik," kata seorang pejabat pemerintahan, seperti dikutip oleh Politico. "Dia salah satu yang paling berpengaruh... Tapi kita harus mengujinya, dan kita tidak bisa terburu-buru." Meskipun demikian, Gedung Putih disebut belum siap untuk berkomitmen pada satu orang tertentu, menunjukkan bahwa pertimbangan ini masih dalam tahap awal.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pernyataan Trump dan Strategi Perubahan Rezim

Donald Trump sendiri telah menyatakan pada Senin (23/3) bahwa akan terjadi "perubahan rezim yang sangat serius" di Iran. Dia menambahkan bahwa perubahan tersebut telah dimulai karena kepemimpinan sebelumnya telah mengalami keruntuhan. "Mereka benar-benar baru memulai. Secara otomatis akan terjadi perubahan rezim, tetapi kita berurusan dengan beberapa orang yang menurut saya sangat masuk akal, sangat solid," ujarnya.

Menurut laporan lebih lanjut, seorang pejabat mengungkapkan bahwa Trump tidak berencana untuk merebut Pulau Kharg, pusat minyak utama Iran. Alih-alih, ia berharap pemimpin berikutnya di Iran dapat membuat kesepakatan serupa dengan yang dilakukan oleh Delcy Rodriguez di Venezuela, yang mengambil alih setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

"Ini semua tentang menempatkan seseorang seperti Delcy Rodriguez di Venezuela yang kita katakan, 'Kami akan mempertahankan Anda di sana. Kami tidak akan menyingkirkan Anda. Anda akan bekerja sama dengan kami. Anda akan memberi kami kesepakatan yang baik, kesepakatan pertama tentang minyak,'" kata pejabat tersebut.

Bantahan dari Pihak Iran dan Dinamika Negosiasi

Meskipun laporan media AS menyebut Ghalibaf sebagai tokoh sentral dalam negosiasi dengan AS, pemimpin senior Iran ini membantah klaim tersebut. Dalam sebuah unggahan di media sosial X, Ghalibaf menegaskan bahwa "tidak ada negosiasi" yang dilakukan dengan Amerika Serikat.

"Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta menghindari jebakan yang menjebak AS dan Israel," kata Ghalibaf, seperti dilansir oleh AFP. Dia juga mengejek taktik perang Trump di platform tersebut, menunjukkan ketegangan yang masih berlangsung antara kedua negara.

Menurut Al Jazeera, Ghalibaf dilaporkan muncul sebagai figur kunci dalam upaya mengakhiri perang, namun dia sendiri menyatakan bahwa belum ada negosiasi resmi yang dilakukan. Situasi ini mencerminkan kompleksitas hubungan AS-Iran, di mana isu negosiasi dan perubahan rezim terus menjadi bahan perdebatan dan spekulasi di tingkat internasional.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga