Trump Ancam Serang Iran 20 Kali Lebih Keras Jika Selat Hormuz Tetap Ditutup
Trump Ancam Serang Iran 20 Kali Lebih Keras

Trump Ancam Serang Iran 20 Kali Lebih Keras Jika Selat Hormuz Tetap Ditutup

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengeluarkan peringatan keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, jalur maritim vital yang menjadi pusat perdagangan minyak global. Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengancam akan "menghantam" Iran puluhan kali lebih keras jika pemblokiran aliran minyak melalui selat strategis itu terus berlanjut.

Peringatan Militer yang Tegas

Seperti dilansir Al Jazeera pada Selasa (10/3/2026), Trump memperingatkan bahwa langkah pemblokiran berkelanjutan oleh Iran akan memicu respons militer yang dahsyat dari Amerika Serikat. "Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LEBIH KERAS daripada yang telah mereka alami sejauh ini," tegas Trump dalam pernyataan via Truth Social.

Lebih lanjut, Trump menambahkan ancaman yang lebih mengerikan: "Selain itu, kita akan menghancurkan target-target yang mudah dihancurkan yang akan membuat Iran hampir tidak mungkin untuk dibangun kembali sebagai sebuah negara -- Kematian, Api, dan Amarah akan menimpa mereka -- Tetapi saya berharap, dan berdoa, agar hal itu tidak akan terjadi!" Pernyataan ini menggambarkan eskalasi ketegangan yang signifikan di kawasan Timur Tengah.

Konteks Penutupan Selat Hormuz

Selat Hormuz telah ditutup sejak Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, melancarkan serangan udara skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan-serangan ini telah hampir sepenuhnya menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk minyak dan barang-barang lainnya.

Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis yang biasanya menangani sekitar 20 persen dari perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair global. Namun, menurut perusahaan analisis Kpler yang mengoperasikan platform MarineTraffic, lalu lintas kapal tanker di sana telah menurun drastis sebesar 90 persen dalam seminggu terakhir, mengindikasikan dampak parah dari konflik ini.

Motivasi di Balik Ancaman

Trump membingkai sikapnya sebagai upaya yang lebih luas untuk melindungi pasar energi internasional, menggambarkannya sebagai "hadiah dari Amerika Serikat kepada China, dan semua negara yang banyak menggunakan Selat Hormuz." Ia menambahkan, "Semoga, ini adalah isyarat yang akan sangat dihargai," menunjukkan bahwa ancaman ini juga ditujukan untuk menjaga stabilitas ekonomi global.

Ancaman Trump ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, dengan harga minyak yang telah naik akibat perang. Trump sebelumnya menyebut kenaikan harga sebagai "harga kecil yang harus dibayar" dalam konteks konflik yang lebih besar. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi konflik militer skala penuh yang dapat berdampak luas pada perdagangan dan keamanan dunia.