Alumnus JCU Singapura Buktikan Pendidikan Tepat Taklukkan Persaingan IT Global
Alumnus JCU Singapura Taklukkan Persaingan IT Global

Meniti karier di pusat teknologi dunia seperti Singapura merupakan impian banyak mahasiswa teknologi informasi (IT). Namun, persaingan ketat dengan talenta lokal sering menjadi penghalang. Kathina Putri, alumnus James Cook University (JCU) Singapore asal Indonesia, membuktikan tantangan itu bisa ditaklukkan dengan pendidikan tepat dan jejaring kuat.

Perjalanan Pendidikan di JCU Singapore

Kathina memulai perjalanannya dengan mengambil Bachelor of Information Technology (BIT) di JCU Singapore. Ia menilai universitas tidak hanya memberikan teori, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran yang membentuk mahasiswa menjadi profesional siap bersaing di tingkat internasional.

Selama kuliah, Kathina mempelajari berbagai bidang IT, mulai dari data structures, algorithms, pemrograman Python dan Java, network security, database engineering, hingga data mining. Menurutnya, perbedaan utama kurikulum JCU terletak pada penerapan metodologi agile yang digunakan di dunia profesional. Mata kuliah design thinking serta sales, services, and business development melatih mahasiswa tidak hanya menjadi teknisi yang mahir mengembangkan produk, tetapi juga dibekali kemampuan mempresentasikan dan memasarkan hasil karya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

“Kurikulum JCU melatih mahasiswanya untuk menjadi builder dengan mentalitas entrepreneurial,” ujar Kathina kepada Kompas.com, Kamis (30/4/2026).

Pengalaman Design Sprint yang Membentuk Profesionalitas

Kathina menceritakan pengalaman paling berkesan yang membentuk sisi profesionalitasnya, yaitu design sprint. Proyek ini menantang mahasiswa membangun prototipe dalam waktu dua hari sebagai bagian dari ujian akhir mata kuliah design thinking.

“Design sprint dikerjakan kelompok berisi enam orang dari berbagai negara. Pengalaman ini mengajarkan saya untuk berpikir lebih cepat, tepat, dan tetap terstruktur di bawah tekanan. Kami juga dilatih berkomunikasi agar siap kerja di tingkat global,” ungkap Kathina.

Berkat bimbingan Michael Hansen, pengajar mata kuliah design thinking, ia terbiasa melakukan brainstorming untuk memecahkan masalah dan menemukan ide kreatif dengan cepat saat memasuki dunia kerja.

Kesiapan Kerja dari Kurikulum dan Pengalaman Langsung

Kathina menyebut, sekitar 70 persen kesiapan memasuki dunia kerja telah terbentuk dari kurikulum kampus, sementara sisanya diperoleh dari pengalaman langsung di dunia profesional. Investasi karier melalui soft skill dan jejaring sosial juga menjadi kunci.

Selain meningkatkan kemampuan teknis, Kathina aktif di ID8 Student Club dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Singapura untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, negosiasi, hingga manajemen waktu.

“Dari student club dan PPI, saya belajar bahwa ada yang tidak diajarkan di ruang kelas, yaitu bagaimana mengelola acara dengan timeline yang ketat, negosiasi, memahami kebutuhan berbagai pihak, dan yang paling penting komunikasi,” jelasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga