Tiga Prajurit TNI Terluka dalam Misi Perdamaian di Lebanon, Indonesia Kutuk Keras
Jakarta - Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) kembali mengalami luka-luka usai terkena ledakan di wilayah selatan Lebanon pada Jumat (2/4). Insiden ini menambah daftar panjang korban dari kontingen Indonesia, setelah sebelumnya tiga prajurit gugur akibat serangan Israel pada akhir Maret lalu.
Pemerintah Indonesia Desak Investigasi Menyeluruh oleh PBB
Menteri Luar Negeri Sugiono, usai proses pelepasan jenazah tiga prajurit TNI yang gugur di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Sabtu (4/4/2026), menyatakan kutukan keras pemerintah Indonesia terhadap peristiwa yang melukai prajurit-prajurit penjaga perdamaian tersebut. Sugiono menegaskan bahwa Indonesia mendesak PBB untuk segera mengambil tindakan penyelidikan secara menyeluruh terhadap insiden ini, mengingat misi tersebut adalah operasi perdamaian, bukan perang.
"Pertama, kita mengutuk keras serangan yang dilakukan terhadap penjaga perdamaian, dalam hal ini UNIFIL. Kemudian, kita juga menuntut dilakukan investigasi menyeluruh karena ini adalah misi penjaga perdamaian," kata Sugiono dalam pernyataannya. Dia menambahkan bahwa pasukan TNI dalam misi perdamaian tidak dilengkapi dengan peralatan tempur seperti prajurit yang turun berperang, sehingga keamanan mereka harus dijamin.
Evaluasi Keselamatan Pasukan UNIFIL Diperlukan
Sugiono juga meminta PBB untuk melakukan evaluasi mendalam terkait keselamatan prajurit UNIFIL, khususnya di Lebanon. Dia menekankan bahwa prajurit penjaga perdamaian bertugas untuk menjaga perdamaian, bukan membuat perdamaian, dan mereka memerlukan perlindungan yang memadai sesuai mandat PBB.
"Harus ada jaminan keamanan bagi prajurit-prajurit penjaga perdamaian karena mereka menjaga perdamaian. Mereka tidak dilengkapi untuk membuat perdamaian, perlengkapan dan latihannya adalah untuk menjaga perdamaian, dan ini merupakan mandat dari PBB," ucapnya. Sugiono berharap seluruh prajurit TNI yang menjalankan misi perdamaian dapat sehat dan selamat dalam melaksanakan tugasnya.
Laporan dan Upaya Diplomasi Indonesia
Kementerian Luar Negeri telah menerima laporan resmi mengenai tiga prajurit TNI yang terluka akibat ledakan di Lebanon selatan tersebut. Insiden ini masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak UNIFIL, dengan penyebab yang belum sepenuhnya terungkap.
Sugiono mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia, melalui perwakilan tetap di New York, telah meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan rapat luar biasa guna membahas insiden ini. Permintaan tersebut diajukan setelah insiden pertama terjadi pada 28 Maret silam, dan Prancis sebagai pen holder urusan Lebanon di Dewan Keamanan telah menyetujui pelaksanaan rapat tersebut.
Daftar Korban Misi Perdamaian TNI di Lebanon
Dalam catatan terbaru, sejauh ini terdapat 11 anggota TNI yang mengalami luka-luka saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon. Rinciannya meliputi:
- Prajurit TNI yang Gugur: Praka Farizal Rhomadhon, Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan.
- Prajurit TNI yang Luka-luka: Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, Praka Arif Kurniawan, Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana, Praka Deni Rianto, serta tiga prajurit lainnya yang terluka pada Jumat (2/4) dengan identitas yang belum diumumkan.
Insiden ini menyoroti risiko tinggi yang dihadapi oleh pasukan perdamaian di zona konflik, serta pentingnya perlindungan dan evaluasi keamanan yang lebih ketat dari PBB. Indonesia terus berkomitmen untuk mendukung misi perdamaian global, namun menekankan bahwa keselamatan prajuritnya harus menjadi prioritas utama.



