Tentara Prancis di UNIFIL Tewas dalam Serangan di Lebanon Selatan
Tentara Prancis UNIFIL Tewas Diserang di Lebanon

Tentara Prancis dari Pasukan UNIFIL Tewas dalam Serangan di Lebanon Selatan

Seorang tentara Prancis yang tergabung dalam pasukan sementara perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) di Lebanon dilaporkan tewas dalam sebuah insiden serangan. Presiden Prancis Emmanuel Macron secara langsung mengumumkan berita duka ini, menyebut nama prajurit tersebut sebagai Florian Montorio dari Resimen Insinyur Parasut ke-17.

Serangan Terjadi Saat Patroli Membersihkan Bahan Peledak

Menurut pernyataan resmi UNIFIL, insiden ini terjadi ketika patroli mereka sedang melakukan pembersihan bahan peledak di sepanjang jalan di desa Ghanduriyah, wilayah Lebanon selatan. Dalam operasi tersebut, mereka tiba-tiba diserang dengan senjata ringan yang diduga berasal dari aktor non-negara.

Selain satu tentara yang tewas, tiga prajurit lainnya mengalami luka-luka, dengan dua di antaranya dilaporkan dalam kondisi serius. Serangan ini menimbulkan keprihatinan internasional, terutama mengingat konteks situasi keamanan yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Macron Menuding Hizbullah dan Menuntut Penangkapan Pelaku

Presiden Emmanuel Macron dengan tegas menyatakan bahwa semua indikasi menunjukkan tanggung jawab atas serangan ini terletak pada kelompok Hizbullah. Ia menyerukan agar pihak berwenang Lebanon segera mengambil tindakan untuk menangkap para pelaku di balik insiden memilukan ini.

Macron menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan keamanan di Lebanon, serta menghormati misi perdamaian yang diemban oleh pasukan UNIFIL. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks hubungan bilateral yang lebih luas, termasuk pembicaraan sebelumnya antara Macron dan pemimpin Indonesia Prabowo Subianto mengenai isu energi dan pendidikan.

Respons dari Pemerintah Lebanon dan Konteks Gencatan Senjata

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, dengan cepat mengutuk serangan tersebut dan memberikan instruksi untuk penyelidikan segera. Dalam pernyataannya, Salam menegaskan bahwa perilaku tidak bertanggung jawab ini menimbulkan kerusakan serius tidak hanya bagi Lebanon, tetapi juga bagi hubungannya dengan negara-negara sahabat dan pendukung di seluruh dunia.

Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon, yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (16/4/2026). Gencatan senjata tersebut disepakati setelah kedua pihak mengadakan pembicaraan langsung di Washington, dengan harapan meredakan ketegangan di perbatasan.

Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata oleh Israel

Militer Israel menuduh Hizbullah melanggar gencatan senjata pada Sabtu (18/4/2026) pagi, tepat sebelum serangan terhadap pasukan UNIFIL terjadi. Israel mengklaim bahwa mereka telah mengidentifikasi beberapa individu yang dicap sebagai teroris mendekati posisi tentara mereka, sehingga menimbulkan ancaman langsung.

Sebagai respons, militer Israel mengatakan mereka melakukan serangan tepat sasaran terhadap para teroris tersebut. Situasi ini memperumit dinamika gencatan senjata dan meningkatkan ketegangan di kawasan, dengan potensi dampak lebih luas pada upaya perdamaian regional.

Serangan terhadap pasukan UNIFIL ini menyoroti kerapuhan situasi keamanan di Lebanon selatan dan tantangan yang dihadapi oleh misi perdamaian internasional. Investigasi lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap detail lebih jelas tentang pelaku dan motif di balik insiden ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga