Perang AS-Israel Robek Hubungan Keluarga di Iran, Perayaan Nowruz Berubah Pahit
Perang Robek Hubungan Keluarga di Iran, Nowruz Berubah Pahit

Perang AS-Israel Robek Hubungan Keluarga di Iran, Perayaan Nowruz Berubah Pahit

Seorang perempuan muda terlihat terisak di luar gedung perkantoran yang menjadi sasaran serangan rudal di Teheran pada 29 Maret 2026. Adegan menyedihkan ini hanyalah salah satu gambaran kecil dari dampak perang yang jauh lebih dalam: perpecahan menyakitkan di dalam keluarga-keluarga Iran.

Pertengkaran Keluarga di Tengah Perayaan Nowruz

"Dia berkata kepadanya: 'Kau bukan lagi saudaraku,' dan dia membalas 'pergi saja kau ke neraka'." Perselisihan antara seorang pria dan kakaknya di sebuah kota dekat Teheran ini disaksikan langsung oleh kerabat mereka, Sina, yang namanya diubah demi keamanan. Insiden ini terjadi saat keluarga berkumpul merayakan Nowruz, festival tahun baru Persia yang biasanya menjadi momen kebersamaan.

Sina, yang berusia dua puluhan dan menentang kepemimpinan ulama, menceritakan bagaimana pamannya yang merupakan anggota Basij—milisisi sukarelawan yang kerap menekan perbedaan pendapat—bahkan menolak menyapa adik perempuannya sendiri yang berseberangan dengan rezim. "Setelah silang pendapat itu, sang paman menutup mulut dan pulang lebih awal," ujar Sina.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Protes 2022 yang Berkepanjangan

Ketegangan keluarga ini sebenarnya telah berlangsung sejak gelombang protes besar-besaran tahun 2022, menyusul kematian Mahsa Amini. Sina mengungkapkan bahwa pamannya pernah menyatakan kemarahannya terhadap para demonstran dengan kata-kata keras: bahkan jika anak-anaknya sendiri tewas dalam protes, dia tidak akan mengambil jenazah mereka.

Namun ironisnya, di tengah perang saat ini, pamannya justru tampak "takut mati" dan berusaha memperbaiki hubungan dengan beberapa anggota keluarga. "Saat Nowruz, dia dan istrinya terlihat sangat murung dan tak berdaya," tambah Sina, yang tetap bersikukuh bahwa para pendukung rezim seharusnya dipenjara.

Konflik Teknologi Memperparah Hubungan Saudara

Kisah serupa dialami Kaveh dari Teheran, yang hubungannya dengan kakaknya—juga anggota Basij—semakin memburuk setelah keterlibatannya dalam protes 2022. Kaveh selama ini membantu menyediakan akses internet melalui Starlink milik SpaceX, meski perangkat ini ilegal di Iran dengan ancaman hukuman dua tahun penjara.

Ketika Kaveh sebentar meninggalkan tempat keluarga mereka menginap selama Nowruz, dia mendapati kakaknya telah mencabut koneksi Starlink dan seluruh perangkat yang terhubung. Pertengkaran pun tak terhindarkan. "Aku sudah tidak tahan lagi dengannya. Kami berdebat, dan aku bilang aku tidak sanggup, lalu aku pergi," kenang Kaveh dengan sedih.

"Aku sangat menantikan Nowruz. Aku sudah mengemas pakaian dan ingin berada bersama keluarga," ujarnya melalui sambungan terenkripsi saat pulang sendirian. "Tapi sekarang aku sama sekali tidak merasakannya."

Perbedaan Pandangan yang Mendalam di Kalangan Oposisi

Bahkan di antara mereka yang menentang pemerintah, terdapat perbedaan tajam mengenai dampak perang ini. Maral, mahasiswa berusia dua puluhan dari Rasht, mengungkapkan frustrasinya terhadap ayahnya yang terus mendukung perang. Ayahnya merupakan pendukung fanatik Reza Pahlavi—putra mahkota Iran sebelum revolusi 1979 yang kini tinggal di AS.

"Ayahku hidup dalam ilusi bahwa Iran akan membuka perbatasannya dan dalam lima tahun semuanya akan dibangun kembali," kata Maral. "Ia terpengaruh propaganda Israel bahwa kedua negara akan berteman." Sementara itu, Tara dari Teheran awalnya dikritik keluarganya karena menentang perang, meski pandangan mereka mulai melunak setelah area dekat rumah mereka terkena serangan.

Berkumpul di Tengah Ancaman Maut

Meski berbeda pandangan, keluarga Tara tetap berusaha pergi ke mana pun bersama-sama. Dengan cara itu, "kami akan mati bersama-sama kalau kami terkena serangan," ujarnya. Sikap ini mencerminkan paradoks kehidupan warga Iran di tengah konflik: berusaha mempertahankan normalitas sembari menghadapi ancaman nyata.

Menurut data dari Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, sekitar 1.900 orang tewas di Iran akibat serangan AS dan Israel, sementara Human Rights Activants News Agency (HRANA) melaporkan angka lebih dari 3.400 korban, dengan lebih dari 1.500 di antaranya warga sipil. Di balik statistik mengerikan ini, tersembunyi luka yang lebih dalam: hubungan keluarga yang tercabik-cabik oleh perbedaan politik dan trauma perang.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga