Kelompok Bersenjata Kurdi di Perbatasan Iran Siap Bertempur, Pasukan Perempuan Ungkap Persiapan
Ketegangan di perbatasan Iran-Irak memanas, dengan kelompok bersenjata Kurdi Iran yang bermarkas di Irak utara bersiap untuk kemungkinan penyeberangan dan pertempuran melawan Republik Islam Iran. Serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang terus berlanjut memicu spekulasi bahwa kelompok-kelompok ini akan segera terlibat dalam konflik, mendorong Iran melancarkan serangan balasan, termasuk tembakan rudal balistik yang menewaskan seorang petempur.
Akses Langka ke Markas Rahasia Pasukan Perempuan Kurdi
BBC berhasil mendapatkan akses langka ke salah satu batalion pasukan Kurdi yang seluruh anggotanya perempuan, Partai Hidup Merdeka Kurdistan (PJAK), di kawasan Kurdistan, Irak utara. Perlu waktu berhari-hari untuk menunggu dan bernegosiasi agar bisa memasuki gua-gua dan terowongan bawah tanah yang menjadi markas rahasia mereka. Di sana, mereka mengoperasikan jaringan komunikasi rahasia, hidup terpisah dari masyarakat awam, dan bersembunyi dari deteksi pemerintah Iran dan Turki.
Hanya seorang fotografer perempuan yang diizinkan masuk dan tinggal bersama para petempur selama 10 hari. Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah kelompok pemberontak Kurdi asal Iran memang bermigrasi ke pegunungan di Irak untuk menghindari intelijen Iran, milisi Syiah proksi, dan pasukan Turki. Baru-baru ini, kelompok-kelompok besar Kurdi Iran di Irak utara membentuk koalisi, menambah kekhawatiran akan eskalasi konflik.
Pernyataan Trump dan Persiapan Militer Intensif
Presiden AS Donald Trump pada 5 Maret menyatakan dukungannya bagi pasukan Kurdi yang ingin menyerbu Iran, namun dua hari kemudian ia menegaskan bahwa ia tidak ingin melibatkan mereka dalam pertempuran di tanah Iran, dengan alasan tidak ingin memperumit perang. Meski demikian, serangan udara AS dan Israel mendorong Iran untuk melancarkan serangan terhadap kelompok Kurdi.
PJAK, salah satu kelompok paling terorganisir, mengaku telah bertahun-tahun bersiap menyerang Iran. Di markas rahasia mereka, sekitar 60 petempur—sebagian besar perempuan—telah berlatih intensif sebelum serangan AS-Israel. Mereka menjalani latihan militer, sesi ideologi, dan keterampilan seperti taktik penembak jitu serta penggunaan drone. Pemeriksaan medis juga dilakukan sebagai persiapan penempatan di perbatasan.
"Perang ini sudah lama diperkirakan," kata Gelawej Ewrin, juru bicara PJAK berusia 40 tahun, kepada BBC. Ia menghabiskan separuh hidupnya di pegunungan dan belum pernah bertemu keluarganya sejak meninggalkan rumah. Menurutnya, gelombang protes yang dipimpin perempuan sejak 2022 telah melemahkan Republik Islam Iran, merujuk pada gerakan "Perempuan, Hidup, Kebebasan" yang dipicu kematian Mahsa Amini.
Motivasi dan Harapan Para Petempur Perempuan
Bagi banyak petempur perempuan, perlawanan bersenjata dianggap sebagai satu-satunya pilihan. Aryen, petempur berusia 21 tahun, mengaku mengalami ketidakadilan dan diskriminasi di Iran sehingga merasa harus mengangkat senjata. "Saya berjuang untuk keluarga saya dan rakyat Kurdi yang telah lama ditindas," ujarnya. Bigen, 18 tahun, yang ikut dalam aksi massa dan menolak jilbab di sekolah, menyatakan bahwa perempuan Kurdi harus memilih antara menderita pembatasan sosial atau melindungi diri melalui revolusi.
Delal, seorang dokter gigi yang menjadi gerilyawan pada usia 23 tahun, menegaskan bahwa pertarungannya adalah untuk menjamin masa depan bebas bagi generasi Kurdi berikutnya. "Bagi rakyat Kurdi, 200 tahun terakhir telah diwarnai penindasan dan kekerasan," tambahnya. PJAK, yang dibentuk pada 2004 dan terkait dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di Turki, menegaskan akan melanjutkan perlawanan bersenjata terhadap Iran, meski digolongkan sebagai organisasi teroris oleh Iran dan Turki.
Kekhawatiran Perang Saudara dan Ketidakpastian Dukungan AS
Para prajurit Kurdi menyadari tantangan besar jika harus berhadapan langsung dengan militer Iran yang bersenjata lengkap. Ewrin mengungkapkan harapan agar perang saudara tidak terjadi di Iran, dengan mengatakan, "Kami harus melakukan segala cara agar perang ini mengarah pada runtuhnya rezim, bukan memaksa kami saling bertempur di masa depan." Kelompok oposisi Iran berharap negara itu bisa menjadi model demokrasi, namun khawatir akan konflik horizontal jika kekuatan nasionalis mendominasi.
Suku Kurdi, yang mencapai sekitar 10% dari populasi Iran 90 juta jiwa, merasa terpinggirkan selama puluhan tahun. Di tengah ketegangan dengan AS-Israel, Teheran semakin gencar menyerang kelompok Kurdi di Kurdistan Irak. Meski pemimpin koalisi Kurdi menolak berkomentar soal percakapan dengan Trump, PJAK mengklaim memiliki kekuatan bersenjata signifikan di dalam wilayah Iran yang menunggu saat tepat untuk bertindak.
Mustafa Hijri, pemimpin Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI), menyerukan pengikutnya untuk menahan diri dari aksi balas dendam. Sementara itu, sejumlah petempur meragukan keandalan dukungan AS, dengan sumber yang memahami dinamika mereka mengatakan bahwa kelompok oposisi tidak akan menggerakkan pasukan darat tanpa jaminan dukungan Angkatan Udara AS, karena militer Iran masih kuat dan serangan darat bisa berakhir menghancurkan.
Bagi para petempur perempuan di Pasukan Pertahanan Perempuan, kebebasan yang mereka rindukan telah lama dinanti. Jika suku Kurdi benar-benar bergabung dalam perang, tidak ada yang bisa memastikan durasi atau hasil akhir pertempuran tersebut.



