Netanyahu Tegaskan Tidak Ada Gencatan Senjata di Lebanon Meski Ada Upaya Negosiasi
Jakarta - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersikukuh bahwa tidak ada gencatan senjata yang berlaku di Lebanon. Pernyataan ini disampaikan meskipun ada perintah untuk memulai negosiasi langsung dengan pemerintah Beirut. Netanyahu tetap bersikeras untuk terus menargetkan Lebanon, yang dianggap sebagai markas kelompok Hizbullah.
Serangan Udara Meningkat dan Korban Berjatuhan
Sejak Rabu, 8 April 2026, militer Israel dilaporkan telah meningkatkan intensitas serangan udara di wilayah Lebanon. Akibat dari eskalasi konflik ini, sedikitnya 300 orang lebih tewas dan lebih dari seribu lainnya mengalami luka-luka. Kondisi memprihatinkan ini terjadi meskipun sebelumnya telah diumumkan adanya gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran.
Meski Pakistan sebagai mediator menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut juga mencakup Lebanon, klaim ini dengan tegas dibantah oleh pihak AS dan Israel. Netanyahu kembali menegaskan posisinya melalui video yang diposting di media sosial X pada Kamis, 9 April 2026, waktu setempat.
Pernyataan Tegas Netanyahu
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa tidak ada gencatan senjata di Lebanon dalam kesepakatan antara Amerika Serikat dengan Iran yang ditandatangani pada Selasa, 7 April 2026. Dia menyebut Lebanon sebagai markas kelompok Hizbullah, yang telah terlibat dalam pertempuran sengit dengan Israel dalam beberapa waktu terakhir.
"Tidak ada gencatan senjata di Lebanon hingga keamanan dipulihkan bagi para penduduk di area permukiman utara Israel, Hizbullah dilucuti senjatanya, dan kesepakatan perdamaian tercapai," kata Netanyahu dalam pernyataan via video tersebut.
Terlepas dari intensitas pengeboman Israel terhadap Lebanon yang masih tinggi, Netanyahu mengklaim bahwa dirinya berupaya mencapai "perdamaian sejati dari posisi yang kuat". Dia juga menyebut bahwa pencapaian Israel telah membawa transformasi dalam hubungannya dengan negara-negara lain, meski Lebanon belum termasuk dalam lingkup tersebut.
Netanyahu Buka Opsi Dialog dengan Lebanon
Di sisi lain, Netanyahu pada Kamis, 9 April 2026, mengumumkan bahwa dirinya telah menginstruksikan para pejabat di Tel Aviv untuk segera memulai negosiasi langsung dengan Beirut. Langkah ini diambil meskipun serangan udara Israel masih terus berlangsung di berbagai wilayah Lebanon.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menjelaskan bahwa negosiasi tersebut akan difokuskan pada upaya perlucutan senjata Hizbullah, serta mendorong terbangunnya hubungan damai antara Israel dan Lebanon. Pemerintah Amerika Serikat disebut akan menjadi tuan rumah perundingan ini.
Mengutip pejabat Departemen Luar Negeri AS, negosiasi dijadwalkan dimulai pekan depan di Washington DC. Informasi serupa juga disampaikan oleh pejabat senior Israel kepada media AS. Pertemuan perdana rencananya digelar di gedung Departemen Luar Negeri AS, dengan kehadiran Duta Besar AS untuk Lebanon, Michel Issa, sebagai perwakilan Washington.
Sementara itu, pihak Israel akan diwakili oleh Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, dan Lebanon diwakili oleh Duta Besar mereka untuk AS, Nada Hamadeh-Moawad. Media lokal Israel, Channel 14, melaporkan bahwa negosiasi ini akan tetap berlangsung di tengah situasi militer yang memanas, khususnya di wilayah selatan Lebanon.
Belum Ada Tanggapan Resmi dari Lebanon
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari otoritas Lebanon terkait pengumuman Netanyahu tersebut. Situasi ini menambah ketegangan di kawasan, dengan harapan bahwa dialog dapat membawa solusi damai meski kondisi militer masih panas.



