Netanyahu Kecam Erdogan Soal Komentar Gencatan Senjata AS-Iran
Jakarta - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan kritik keras terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terkait komentarnya mengenai gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Netanyahu dengan tegas menyatakan bahwa Israel akan terus memerangi rezim Teheran beserta proksi-proksinya di kawasan Timur Tengah.
Erdogan Peringatkan Ancaman terhadap Kesepakatan
Dilansir dari AFP pada Minggu (12/4/2026), tak lama setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata awal pekan ini, Erdogan telah memperingatkan Presiden AS Donald Trump tentang "kemungkinan provokasi dan sabotase" yang berpotensi merusak kesepakatan tersebut. Meskipun Erdogan tidak secara eksplisit menyebutkan pihak mana yang mungkin mengancam, pernyataannya langsung memicu reaksi keras dari Netanyahu.
Dalam tanggapannya yang disampaikan melalui platform X, Netanyahu dengan lantang mengkritik pemimpin Turki itu. "Israel, di bawah kepemimpinan saya, akan terus memerangi rezim teror Iran dan proksi-proksinya, tidak seperti Erdogan yang mengakomodasi mereka dan membantai warga Kurdi-nya sendiri," tegas Netanyahu.
Turki dalam Upaya Diplomatik
Selama percakapan telepon dengan Trump, Erdogan juga mendesak agar gencatan senjata "tidak dikompromikan dalam keadaan apa pun" dan menegaskan bahwa Turki akan menawarkan dukungan penuh untuk memastikan hal tersebut. Turki, meskipun dikenal sebagai pengkritik keras Israel, ternyata bergabung dalam upaya diplomatik bersama Mesir dan Pakistan untuk mencapai gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan AS dan Iran.
Kecaman Tambahan dari Menteri Pertahanan Israel
Kemudian pada hari Sabtu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz juga mengecam Erdogan melalui platform X, dengan menyebutnya sebagai "macan kertas". Katz menuduh Erdogan tidak menanggapi serangan rudal dari Iran ke wilayah Turki dan telah terbukti sebagai figur yang lemah.
"Erdogan, yang tidak menanggapi serangan rudal dari Iran ke wilayah Turki dan telah terbukti sebagai macan kertas, kini melarikan diri ke ranah antisemitisme dan menyerukan pengadilan sandiwara di Turki terhadap kepemimpinan politik dan militer Israel," tulis Katz.
Lebih lanjut, Katz menyatakan bahwa tuduhan Erdogan terhadap Israel adalah absurd. "Sungguh absurd. Seorang anggota Ikhwanul Muslimin, yang membantai Kurdi, menuduh Israel—yang membela diri terhadap sekutu Hamasnya—melakukan genosida," ucapnya. Katz menegaskan bahwa Israel akan terus membela diri dengan kekuatan dan tekad, serta menyarankan Erdogan untuk tetap diam.
Ketegangan antara Israel dan Turki ini menyoroti dinamika kompleks di kawasan Timur Tengah, di mana isu gencatan senjata AS-Iran menjadi titik fokus baru dalam hubungan internasional. Komentar Erdogan yang dianggap provokatif oleh Netanyahu dan Katz memperlihatkan bagaimana persepsi dan kepentingan nasional masing-masing negara dapat memicu konflik diplomatik yang tajam.



