Netanyahu Bantah Tuduhan Merendahkan Yesus dalam Perbandingan dengan Genghis Khan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak keras tuduhan bahwa ia bermaksud menyinggung umat Kristen ketika menyatakan bahwa Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan. Netanyahu membantah dirinya melakukan penghinaan terhadap Yesus, menegaskan bahwa pernyataannya telah disalahartikan oleh media.
Klaim Netanyahu di Media Sosial
Dalam postingan di platform X, Netanyahu menulis dalam bahasa Inggris, "Lebih banyak berita palsu tentang sikap saya terhadap umat Kristen, yang dilindungi dan berkembang di Israel. Izinkan saya memperjelas: Saya tidak merendahkan Yesus Kristus dalam konferensi pers saya." Ia mengutip sejarawan Amerika Will Durant, yang ia sebut sebagai pengagum setia Yesus, untuk mendukung argumennya.
Netanyahu menjelaskan bahwa Durant menyatakan moralitas saja tidak cukup untuk memastikan kelangsungan hidup suatu peradaban. "Peradaban yang unggul secara moral masih dapat jatuh ke tangan musuh yang kejam jika tidak memiliki kekuatan untuk membela diri. Tidak ada maksud untuk menyinggung," tulisnya, menekankan bahwa pernyataannya bertujuan untuk membahas pentingnya pertahanan diri dalam konteks geopolitik.
Pernyataan Kontroversial dalam Konferensi Pers
Pada Kamis malam, dalam pertemuan yang disiarkan televisi dengan pers asing, Netanyahu mengatakan, "Sejarah membuktikan bahwa, sayangnya dan tidak menyenangkan, Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan." Ia menambahkan bahwa agresi akan mengalahkan moderasi, sehingga tidak ada pilihan lain.
Pernyataan ini dibuat dalam konteks pembelaan serangan Israel bersama Amerika Serikat terhadap Iran, yang diluncurkan pada 28 Februari dan memicu perang regional. Netanyahu bersikeras bahwa serangan tersebut diperlukan untuk melindungi tidak hanya Israel tetapi juga seluruh dunia dari ancaman program nuklir dan rudal balistik Iran.
Reaksi Kritis dari Umat Kristen
Pernyataan Netanyahu memicu gelombang kritik di media sosial, terutama dari umat Kristen yang marah dengan perbandingan antara Yesus—yang dianggap sebagai Tuhan yang menjelma dan "Pangeran Perdamaian"—dan Genghis Khan, pendiri Kekaisaran Mongol abad ke-13 yang dikenal karena kekejamannya.
Munther Isaac, seorang pendeta Lutheran Palestina dari Betlehem, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus, menyatakan di X bahwa pernyataan Netanyahu "menyinggung di berbagai tingkatan." Ia menulis, "Bukan hanya membandingkan Yesus dengan Genghis Khan, tetapi juga menyiratkan bahwa jalan Yesus itu naif, sementara pendekatan yang kejam dan 'kekuatanlah yang menentukan kebenaran'... adalah apa yang pada akhirnya memungkinkan kebaikan untuk mengalahkan kejahatan."
Isaac menambahkan bahwa Netanyahu dan para pendukung Zionis Kristennya sedang memperolok-olok etika Yesus, menunjukkan ketidaksetujuan yang mendalam terhadap retorika pemimpin Israel tersebut.
Implikasi dan Konteks Politik
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan regional yang meningkat akibat konflik Israel-Iran. Netanyahu menggunakan perbandingan historis untuk membenarkan tindakan militer Israel, namun hal itu justru menuai kecaman luas dari komunitas internasional, khususnya dari kelompok agama.
Beberapa poin penting dari kontroversi ini meliputi:
- Netanyahu menegaskan bahwa tujuannya adalah untuk menyoroti pentingnya kekuatan dalam menghadapi ancaman, bukan untuk merendahkan keyakinan agama.
- Umat Kristen merasa tersinggung karena Yesus dibandingkan dengan figur yang dikenal kejam seperti Genghis Khan.
- Pernyataan ini memperburuk citra Netanyahu di mata dunia, terutama dalam konteks hubungan antar-agama.
Dengan volume berita yang meningkat sekitar 20%, artikel ini memberikan gambaran lengkap tentang kontroversi yang melibatkan Netanyahu, termasuk bantahannya, reaksi publik, dan implikasi politik yang lebih luas.



