Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius secara terbuka menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran. Dalam wawancara dengan stasiun televisi ARD, Pistorius menegaskan bahwa kebijakan Trump menjadi penyebab utama terhambatnya jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas dunia.
"Pada akhirnya, sumbat di leher botol Selat Hormuz didorong masuk oleh Donald Trump, bukan oleh kami, tetapi kami memiliki kepentingan untuk membukanya kembali," ujar Pistorius seperti dilansir AFP pada Senin, 22 Juni 2026. Pernyataan ini menjadi kritik paling keras dari pejabat Jerman terhadap AS sejak konflik memanas.
Kronologi Penutupan dan Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Selat Hormuz secara efektif diblokir sejak 28 Februari 2026, ketika perang besar pecah dipicu serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Teheran kemudian setuju membuka kembali jalur tersebut berdasarkan kesepakatan awal yang ditandatangani Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Lalu lintas kapal sempat pulih, namun pada Sabtu, 20 Juni, Iran kembali menutup Selat Hormuz dengan alasan Israel terus menggempur Lebanon, basis kelompok Hizbullah.
Pistorius menekankan bahwa pembukaan Selat Hormuz sangat penting bagi Eropa. "Pembukaan Selat Hormuz, atau lebih tepatnya jalur aman untuk melintasinya, adalah demi kepentingan Eropa, demi kepentingan pasokan energi kita dan pemulihan ekonomi kita," tegasnya. Ia menambahkan bahwa setiap kesepakatan untuk membuka kembali selat tersebut membutuhkan dukungan dari Iran dan Oman, yang wilayahnya berbatasan dengan Selat Hormuz.
Sikap Jerman yang Semakin Kritis terhadap AS
Pernyataan Pistorius menandai perubahan sikap Jerman yang sebelumnya enggan menyalahkan AS secara langsung. Sejak awal konflik, Jerman berulang kali menjauhkan diri dari operasi militer AS terhadap Iran. Ketika Trump mendesak sekutu-sekutu Washington untuk membantu membuka atau mengamankan Selat Hormuz pada April lalu, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan bahwa perang tersebut "bukan urusan NATO".
Merz dan Pistorius juga mengkritik AS karena tidak berkonsultasi dengan sekutu-sekutunya sebelum melancarkan serangan terhadap Iran. Sikap ini menunjukkan ketegangan yang semakin meningkat antara Jerman dan AS di bawah kepemimpinan Trump.
Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Ekonomi Global
Penutupan Selat Hormuz mengancam pasokan energi global, mengingat sekitar 20% minyak dunia melewati jalur ini. Negara-negara Eropa, termasuk Jerman, sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Pemulihan ekonomi Eropa yang masih rapuh pasca-pandemi kini terancam oleh kenaikan harga minyak dan ketidakpastian pasokan.
Pistorius menyerukan agar selat tersebut segera dibuka kembali untuk menjaga stabilitas ekonomi. Ia juga mengingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan hanya akan merugikan semua pihak, terutama negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.



