Dari Penengah Jadi Penonton: Melemahnya Pengaruh Eropa Atas Iran
Melemahnya Pengaruh Eropa Atas Iran

Dari Penengah Jadi Penonton: Melemahnya Pengaruh Eropa Atas Iran

Di tengah krisis yang melanda Iran, sebuah pertanyaan kritis muncul: Apakah Uni Eropa (UE) masih mampu mempengaruhi situasi saat ini, atau justru kini hanya menjadi penonton di pinggir lapangan? Perdebatan yang berlangsung pekan ini di Parlemen Eropa memperlihatkan satu hal yang jelas: Ketika membahas Iran, Eropa kesulitan mengubah kekhawatiran menjadi pengaruh nyata.

Perdebatan yang Memperlihatkan Perpecahan

Para anggota parlemen berdebat tentang bagaimana UE seharusnya merespons serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Perdebatan itu memperlihatkan perpecahan tajam di dalam blok tersebut, bahkan di antara lembaga-lembaga Uni Eropa sendiri. Gambaran yang muncul dari pertemuan di Strasbourg adalah Eropa yang sangat terdampak oleh krisis, namun jauh lebih lemah dalam mempengaruhi arah perkembangannya daripada yang diharapkan.

"Uni Eropa saat ini sama sekali tidak memiliki peran berarti. Titik," tandas Julien Barnes-Dacey, direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara di European Council on Foreign Relations. "Eropa sekarang tidak relevan."

Dulu Penengah Utama, Kini Hanya Penonton

Dahulu, Uni Eropa melihat dirinya sebagai aktor diplomasi kunci dalam isu Iran. Sejak 2006, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk urusan luar negeri mengoordinasikan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Proses diplomatik tersebut akhirnya melahirkan kesepakatan nuklir 2015 yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Kesepakatan itu bertujuan membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sebagian sanksi internasional. Setelah perjanjian ditandatangani, Uni Eropa tetap menjadi koordinator utama sekaligus pembela kesepakatan tersebut.

Namun situasinya berubah drastis. Pada tahun 2018, Presiden AS Donald Trump menarik Washington keluar dari kesepakatan tersebut, sebuah langkah yang menghantam keras kerangka diplomasi yang selama ini dibangun Eropa. Meski demikian, Barnes-Dacey menilai hilangnya pengaruh Eropa tidak semata-mata disebabkan oleh Trump. Menurutnya, selama bertahun-tahun Uni Eropa telah menurunkan prioritasnya terhadap kawasan Timur Tengah. Sementara itu, baik Washington maupun Teheran semakin jarang memandang Eropa sebagai pemain utama.

"Baik Amerika Serikat maupun Iran tidak lagi melihat Eropa sebagai mediator diplomatik yang serius dan kredibel," katanya.

Masalah Lama: Eropa Terpecah dan Fokus Tersedot

Analis Maneli Mirkhan, yang lahir di Teheran dan kini menetap di Paris, Prancis, juga berpendapat bahwa Eropa telah kehilangan pengaruh. Menurutnya, Eropa terlalu lama bersikap naif. Fokus pada diplomasi dan sanksi tidak cukup untuk menghentikan Iran mengembangkan kemampuan militer, nuklir, dan teknologi. Kedua pakar itu sepakat pada satu hal: Masalah klasik Eropa, yakni perpecahan internal, justru memperburuk situasi.

Kebijakan luar negeri Uni Eropa masih sangat bergantung pada konsensus di antara negara-negara anggotanya, sesuatu yang sulit dicapai dalam krisis keamanan yang bergerak cepat. Spanyol mengambil sikap paling keras dengan mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, awalnya terlihat mendukung tujuan Amerika Serikat dan Israel untuk mengganti rezim di Iran, sebelum kemudian melunak. Kini Jerman, Prancis, dan Inggris menyerukan sikap lebih berhati-hati sambil tetap mengkritik Iran.

Di Brussels, pesan yang muncul juga terkesan tidak seragam. Kepala diplomasi Uni Eropa Kaja Kallas menekankan pentingnya de-eskalasi, sementara Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen berbicara tentang kemungkinan "transisi yang kredibel" dan "harapan baru" bagi rakyat Iran.

Menurut Barnes-Dacey, lemahnya posisi Eropa juga dipengaruhi faktor strategis. Saat ini perhatian geopolitik Eropa lebih banyak difokuskan pada perang di Ukraina. Uni Eropa juga enggan berkonfrontasi dengan Trump terkait Iran karena khawatir merusak kerja sama dengan Amerika Serikat, baik dalam perdagangan maupun dalam menghadapi Rusia.

"Eropa tetap fokus menjaga hubungan transatlantik di atas segalanya, karena mereka ingin memastikan Amerika tetap sejalan dengan mereka," paparnya.

Terpinggirkan, Tapi Tetap Terdampak

Meski berada di pinggir panggung, Eropa tetap akan merasakan dampaknya. Mirkhan memperingatkan bahwa Eropa bisa membayar harga mahal jika Iran melemah secara militer namun tetap bertahan secara politik. Konflik berkepanjangan dapat memicu lonjakan harga energi, mengguncang stabilitas kawasan, dan meningkatkan tekanan migrasi ke Eropa.

"Jika kita gagal menciptakan kondisi untuk transisi yang relatif stabil, maka risikonya akan sangat besar bagi Eropa," ujarnya.

Masih Punya Peran? Pandangan yang Berbeda

Di titik ini, kedua analis berbeda pendapat. Barnes-Dacey pesimistis Eropa bisa kembali berpengaruh tanpa perubahan besar dalam kemauan politiknya. Sebaliknya, Mirkhan lebih optimistis. Ia menilai Eropa mungkin tidak lagi berperan besar dalam fase militer konflik, tetapi masih bisa memainkan peran penting setelahnya—misalnya jika rezim Republik Islam Iran runtuh.

Menurutnya, Eropa dapat mendukung tokoh oposisi, memfasilitasi dialog di antara mereka, dan membantu merancang kerangka demokrasi bagi masa transisi. Dengan kata lain, Eropa harus bergerak dari sekadar pernyataan simbolis menuju kekuatan pendorong yang nyata. Namun bagi Barnes-Dacey, kesimpulannya sudah jelas: Jika krisis Iran menjadi ujian apakah Uni Eropa benar-benar aktor geopolitik yang berarti, maka "Eropa telah gagal."

Krisis Iran sekali lagi memperlihatkan kesenjangan antara ambisi geopolitik Eropa dan kemampuannya untuk bertindak. Mengenai Ukraina, Uni Eropa telah menunjukkan bahwa mereka masih dapat berperan penting ketika berbicara dengan satu suara. Mengenai Iran, Uni Eropa masih harus membuktikan bahwa mereka dapat menjadi lebih dari sekadar "penonton".