Markas UNIFIL di Lebanon Diserang, 3 Pasukan Perdamaian Ghana Terluka
Markas UNIFIL Diserang, 3 Pasukan Ghana Terluka

Markas UNIFIL di Lebanon Diserang, 3 Pasukan Perdamaian Ghana Terluka

Jakarta - Pangkalan Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) menjadi sasaran serangan yang diduga dilakukan oleh Israel. Insiden ini mengakibatkan tiga pasukan penjaga perdamaian asal Ghana mengalami luka-luka dengan kondisi yang beragam.

Serangan Terjadi di Tengah Baku Tembak Hebat

Dilansir dari AFP pada Sabtu (7/3/2026), serangan tersebut terjadi dalam situasi baku tembak intensif antara Israel dan kelompok proksi Iran di Lebanon, Hizbullah. Konflik ini telah meluas ke wilayah Lebanon sejak hari Senin (2/3) lalu, menandai eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.

"Di tengah baku tembak hebat malam ini, tiga pasukan penjaga perdamaian terluka di dalam pangkalan mereka di Qawzah," jelas pernyataan resmi dari UNIFIL. Korban dengan luka paling parah telah segera dievakuasi ke rumah sakit di Beirut untuk mendapatkan perawatan medis yang intensif.

Militer Ghana Konfirmasi Dua Serangan Rudal

Militer Ghana memberikan konfirmasi lebih lanjut mengenai detail serangan. Menurut mereka, markas batalion UNIFIL mereka menjadi target dari dua serangan rudal terpisah. Akibat serangan ini, dua tentara mengalami luka-luka parah, sementara satu tentara lainnya menderita trauma psikologis.

"Fasilitas mess perwira juga terkena dampak langsung dan telah terbakar habis," tambah pernyataan militer Ghana tersebut. Kerusakan infrastruktur ini menunjukkan tingkat keparahan serangan yang terjadi.

Penyelidikan dan Kecaman Internasional

Baik UNIFIL maupun tentara Ghana secara hati-hati tidak menyebutkan secara eksplisit sumber serangan. Namun, pasukan internasional tersebut berkomitmen untuk melakukan penyelidikan mendalam terhadap keadaan insiden ini. "Tidak dapat diterima bahwa pasukan penjaga perdamaian yang menjalankan tugas yang diamanatkan Dewan Keamanan PBB menjadi sasaran," tegas pernyataan UNIFIL.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, secara tegas mengutuk "serangan Israel terhadap Lebanon". Dia menegaskan bahwa serangan ini bahkan telah mencapai titik serangan langsung terhadap markas UNIFIL, yang merupakan pelanggaran serius.

Dukungan internasional juga datang dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang mengutuk "serangan yang tidak dapat diterima" terhadap UNIFIL. Setelah berbicara dengan rekan-rekannya dari Lebanon dan Suriah, Macron menekankan bahwa Prancis bekerja sama dengan para mitra untuk mencegah konflik menyebar lebih jauh di wilayah tersebut.

Peran Krusial UNIFIL dan Rencana Masa Depan

UNIFIL telah memainkan peran stabilisasi yang sangat krusial sebagai penyangga antara Israel dan Lebanon selama beberapa dekade. Pasukan ini juga aktif membantu tentara Lebanon dalam membongkar infrastruktur Hizbullah di dekat perbatasan Israel, terutama setelah perang terakhir antara kelompok yang didukung Iran dan Israel pada tahun 2024.

Meskipun memiliki peran penting, UNIFIL berencana untuk menarik semua pasukannya dari Lebanon pada pertengahan tahun 2027. Insiden serangan ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan operasi pasukan perdamaian di tengah konflik yang terus bereskalasi.