Macron Telepon Trump Serukan Moratorium Serangan, Iran Sindir Kekhawatiran Palsu
Macron Serukan Moratorium Serangan, Iran Sindir Kekhawatiran Palsu

Macron Serukan Moratorium Serangan Infrastruktur Sipil Setelah Telepon dengan Trump

Presiden Prancis Emmanuel Macron secara resmi menyerukan diadakannya moratorium serangan yang menargetkan infrastruktur sipil. Seruan ini disampaikannya setelah melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Emir Qatar.

"Saya baru saja berbicara dengan Emir Qatar dan Presiden Trump menyusul serangan yang menghantam lokasi produksi gas di Iran dan Qatar hari ini," tulis Macron dalam unggahan di platform X, seperti dilansir oleh AFP pada Kamis, 19 Maret 2026.

"Demi kepentingan bersama, moratorium serangan yang menargetkan infrastruktur sipil, khususnya infrastruktur energi dan air, harus segera diterapkan," tegas Macron dalam pernyataannya lebih lanjut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Iran Berikan Tanggapan Menohok kepada Macron

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan cepat menanggapi seruan moratorium dari Presiden Prancis tersebut. Melalui unggahan di media sosial, Araghchi memberikan jawaban yang penuh sindiran dan kritik tajam.

"Macron belum mengucapkan satu kata pun kecaman terhadap perang Israel-AS di Iran. Dia tidak mengecam Israel ketika meledakkan penyimpanan bahan bakar di Teheran, yang membuat jutaan orang terpapar racun," tulis Araghchi seperti dilaporkan oleh Al Jazeera.

"'Kekhawatiran' yang dia tunjukkan saat ini bukan karena serangan Israel terhadap fasilitas gas kita. Melainkan karena pembalasan yang kita lakukan. Menyedihkan!" tambah Menteri Luar Negeri Iran dengan nada yang sangat sinis.

Latar Belakang Eskalasi Konflik di Kawasan Teluk

Seruan moratorium dari Macron muncul dalam konteks eskalasi ketegangan militer baru-baru ini. Iran diketahui telah melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas dan ladang gas di negara-negara Teluk. Aksi ini merupakan bentuk pembalasan setelah ladang gas milik Iran di Pars Selatan diserang oleh pasukan AS dan Israel.

Di Qatar, dilaporkan terjadi kebakaran hebat di fasilitas gas di Kota Industri Ras Laffan menyusul serangan dari Iran. Kementerian Dalam Negeri Qatar mengonfirmasi bahwa tim pertahanan sipil sedang berupaya memadamkan api tersebut.

Menurut pernyataan resmi kementerian, tidak ada korban luka yang dilaporkan dalam insiden ini. Pertahanan sipil Qatar sebelumnya menyatakan telah berhasil mengendalikan kebakaran di Ras Laffan.

Reaksi Negara-Negara Lain dan Kondisi Terkini

Negara-negara lain di kawasan juga mulai memberikan tanggapan atas perkembangan situasi ini. Uni Emirat Arab secara resmi mengutuk serangan Iran terhadap fasilitas gas Habshan dan ladang minyak Bab.

Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan bahwa "serangan Iran" yang menargetkan fasilitas tersebut merupakan "eskalasi berbahaya dan pelanggaran prinsip-prinsip hukum internasional".

Situasi di kawasan Teluk Persia saat ini masih sangat tegang dengan:

  • Adanya serangan balasan Iran terhadap fasilitas energi negara tetangga
  • Upaya diplomatik yang dilakukan oleh Prancis melalui seruan moratorium
  • Tanggapan keras dari Iran yang mempertanyakan konsistensi sikap negara-negara Barat
  • Laporan kebakaran di fasilitas gas Qatar yang sedang ditangani

Eskalasi konflik ini terjadi di tengah ketegangan yang sudah berlangsung lama antara Iran dengan koalisi yang dipimpin AS dan Israel. Seruan moratorium dari Macron dianggap sebagai upaya meredakan ketegangan, namun tanggapan dari Iran menunjukkan skeptisisme yang mendalam terhadap motivasi di balik seruan tersebut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga