Ledakan Rudal Iran Lukai 2 Warga Israel, 86 Lainnya Alami Cedera Ringan
Ledakan Rudal Iran Lukai 2 Warga Israel, 86 Cedera

Ledakan Rudal Iran Lukai Dua Warga Israel, Puluhan Lainnya Alami Cedera

Israel melaporkan adanya korban luka akibat terkena ledakan rudal balasan yang dilayangkan militer Iran. Dua korban itu saat ini masih dalam perawatan medis dan kondisi mereka terus dipantau.

Korban Luka Akibat Serangan Rudal

Dilansir dari AFP pada Minggu (1/3/2026), layanan darurat Magen David Adom (MDA) Israel mengonfirmasi bahwa pada hari Sabtu (28/2), mereka telah mengevakuasi seorang remaja berusia 16 tahun ke rumah sakit usai terkena ledakan rudal Iran. Remaja itu terluka oleh pecahan peluru di kota Kafr Qassem, yang terletak di wilayah tengah Israel.

Selain remaja tersebut, Israel juga menyebut satu pria berusia 50 tahun di kota Ka'abiyye-Tabbash terluka akibat rudal Iran. Kedua korban ini mengalami luka-luka yang memerlukan perawatan intensif di fasilitas kesehatan.

Korban Tambahan dan Kesiapan Darurat

Disebutkan bahwa ada 86 orang yang menderita luka ringan saat menuju tempat penampungan, sementara enam lainnya menderita kecemasan akibat serangan tersebut. Insiden ini terjadi dalam konteks ketegangan militer yang meningkat antara Israel dan Iran.

MDA mengatakan bahwa timnya sedang memindahkan pasien yang terbaring di tempat tidur, pasien yang menggunakan ventilator, dan lainnya dari lokasi mereka saat ini ke fasilitas yang terlindungi. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan pasien di tengah ancaman serangan lebih lanjut.

Pihak MDA juga menyebut bahwa seluruh 39.000 karyawan dan sukarelawan organisasi tersebut telah dimobilisasi dan berada dalam "kesiapan puncak". Hal ini menunjukkan tingkat kesiagaan tinggi dalam menanggapi krisis yang sedang berlangsung.

Latar Belakang Konflik dan Respons Internasional

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target di Iran pada hari Sabtu (28/2). Tindakan itu memicu pembalasan cepat oleh Iran yang merespons dengan serangan rudal di seluruh wilayah Israel, menciptakan situasi yang sangat tegang di kawasan Timur Tengah.

Warga Arab Israel, yang merupakan keturunan Palestina yang tetap tinggal di tanah mereka setelah berdirinya Israel pada tahun 1948, terdiri dari kurang dari 20 persen dari populasi Israel yang berjumlah 10,1 juta jiwa. Komunitas ini sering mengeluhkan kurangnya tempat perlindungan bom di desa dan kota mereka, yang membuat mereka lebih rentan selama serangan rudal daripada populasi lain di Israel.

Kondisi ini menyoroti ketidaksetaraan dalam infrastruktur pertahanan sipil, yang dapat berdampak signifikan pada keselamatan warga selama konflik bersenjata.