Lebanon Berduka: 1.110 Jiwa Tewas Akibat Serangan Israel yang Berlanjut
Lebanon: 1.110 Tewas Akibat Serangan Israel

Lebanon Berduka: 1.110 Jiwa Tewas Akibat Serangan Israel yang Berlanjut

Jakarta - Situasi di Lebanon semakin mencekam akibat serangan militer Israel yang terus berlanjut. Berdasarkan laporan terbaru, jumlah korban tewas telah mencapai angka yang mengkhawatirkan, yaitu 1.110 orang. Serangan ini juga telah memaksa ratusan ribu warga sipil untuk meninggalkan rumah mereka dalam kondisi darurat.

Dampak Kemanusiaan yang Parah

Dilansir dari Al Jazeera pada Jumat, 27 Maret 2026, serangan Israel terhadap Lebanon tidak hanya menewaskan lebih dari 1.100 orang, tetapi juga menyebabkan sekitar 136.000 orang terpaksa mengungsi. Unit Manajemen Risiko Bencana di Lebanon melaporkan bahwa jumlah total pengungsi di tempat penampungan telah mencapai 136.262 individu. Sementara itu, jumlah kepala keluarga pengungsi tercatat sebanyak 34.973 keluarga, yang menggambarkan skala krisis kemanusiaan yang luas.

Kantor Berita Nasional Lebanon mengutip pernyataan resmi dari unit tersebut, yang menyebutkan bahwa jumlah korban tewas meningkat menjadi 1.116 jiwa, dengan tambahan 3.229 orang mengalami luka-luka. Angka-angka ini menunjukkan intensitas serangan yang tinggi dan dampak buruknya terhadap populasi sipil.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penolakan Gencatan Senjata dan Eskalasi Militer

Di tengah situasi yang memanas, Pemimpin Hizbullah, Qassem, menyatakan bahwa pihaknya menolak untuk melakukan perundingan gencatan senjata selama Israel terus melancarkan serangan. Pernyataan ini menegaskan ketegangan yang semakin dalam antara kedua belah pihak, dengan Hizbullah bersikeras untuk tidak berkompromi dalam menghadapi agresi militer.

Dilansir dari AFP pada Kamis, 26 Maret 2026, Israel, yang pernah menduduki Lebanon selatan selama sekitar dua dekade hingga tahun 2000, kini kembali melancarkan serangan terhadap negara tetangga utaranya. Tidak hanya melalui serangan udara, Israel juga mengirim pasukan darat untuk menguasai jalur hingga Sungai Litani, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari perbatasan. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk memperluas zona pengaruh militer di wilayah tersebut.

Pernyataan dari Pihak Israel dan Hizbullah

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam sebuah video yang dibagikan oleh kantornya, menyatakan bahwa militer Israel telah 'menciptakan zona keamanan yang nyata' dan sedang memperluasnya dengan mendorong lebih dalam ke Lebanon. Netanyahu menegaskan bahwa tindakan ini bertujuan untuk mencegah invasi darat ke Israel dan serangan rudal, dengan menciptakan zona penyangga yang lebih besar.

Sementara itu, Hizbullah merespons dengan mengeluarkan puluhan pernyataan yang mengklaim serangan terhadap pasukan Israel. Kelompok tersebut juga melaporkan bahwa mereka telah meluncurkan rudal pada Kamis pagi ke lokasi militer di Israel tengah, di mana sirene serangan udara berbunyi. Hal ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya satu arah, tetapi juga melibatkan serangan balasan dari Hizbullah, yang semakin memperumit situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.

Dengan korban tewas yang terus bertambah dan jumlah pengungsi yang semakin besar, krisis di Lebanon ini menimbulkan keprihatinan internasional. Konflik antara Israel dan Lebanon, yang melibatkan aktor-aktor seperti Hizbullah, terus menjadi sorotan dunia karena dampak kemanusiaannya yang signifikan dan potensi eskalasi yang lebih luas di masa depan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga