Penulisan Nama Menlu AS Diubah Demi Bisa Masuk China
Penulisan Nama Menlu AS Diubah Demi Bisa Masuk China

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mendampingi Presiden Donald Trump dalam kunjungan bersejarah ke Beijing, China. Rubio, yang berada di bawah sanksi China, dapat masuk karena cara penulisan namanya diubah.

Perubahan Nama untuk Menghindari Sanksi

Dilansir AFP pada Jumat (15/5/2026), Rubio dikenal gigih memperjuangkan hak asasi manusia di China saat masih menjabat sebagai Senator. Sebagai balasan, China menjatuhkan sanksi kepadanya sebanyak dua kali. Namun, China menyatakan tidak akan menghalangi Rubio, yang kini berusia 54 tahun, untuk mengunjungi China untuk pertama kalinya. Pihak China menegaskan bahwa sanksi tersebut menargetkan ucapan dan perbuatan Rubio semasa menjadi Senator.

Juru bicara kedutaan besar China, Liu Pengyu, mengatakan, "Sanksi tersebut menargetkan ucapan dan perbuatan Bapak Rubio ketika dia menjabat sebagai senator AS terkait China." China dilaporkan telah menemukan jalan keluar diplomatik setelah Trump menunjuk Rubio sebagai Menteri Luar Negeri dan penasihat keamanan nasionalnya. Tak lama sebelum Rubio menjabat pada Januari 2025, pemerintah China dan media resmi mulai mentransliterasikan suku kata pertama dari nama keluarganya dengan karakter Tionghoa yang berbeda untuk 'lu'.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dua diplomat meyakini perubahan itu merupakan cara cepat bagi China untuk menghindari penerapan sanksi terhadap Rubio yang dilarang masuk dengan ejaan nama lamanya. Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS hanya mengkonfirmasi bahwa Rubio bepergian bersama Trump.

Kehadiran Rubio yang Menarik Perhatian

Kehadiran Rubio di Air Force One dengan cepat menarik perhatian karena alasan lain. Gedung Putih merilis foto dirinya bersantai mengenakan pakaian olahraga Nike, mirip dengan yang dikenakan oleh Presiden Venezuela Nicolas Maduro ketika pasukan AS menangkapnya. Rubio, yang merupakan keturunan Kuba-Amerika, dikenal lantang menentang komunisme. Ia adalah penulis utama undang-undang kongres yang memberlakukan sanksi luas terhadap China atas dugaan penggunaan kerja paksa oleh minoritas Uyghur yang mayoritas Muslim. Tuduhan itu telah dibantah keras oleh Beijing. Rubio juga telah berbicara menentang tindakan keras Beijing di Hong Kong.

Pada sidang konfirmasinya sebagai Menteri Luar Negeri, Rubio sangat fokus pada China, yang digambarkannya sebagai musuh yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, sejak menjabat, Rubio telah mendukung Trump yang menggambarkan Xi Jinping sebagai teman dan berfokus pada pembangunan hubungan perdagangan sambil mengabaikan isu hak asasi manusia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga