Presiden Kuba Siap Hadapi Perlawanan Tak Terkalahkan Ancaman Ambil Alih dari AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersumpah akan mengambil alih Kuba ketika negara kepulauan itu dilanda kegelapan akibat pemadaman listrik total yang terkait dengan embargo minyak oleh Washington. Dalam respons tegas, pemimpin Kuba Miguel Diaz-Canel menyatakan bahwa AS akan menghadapi perlawanan yang tak tergoyahkan jika mencoba merebut kedaulatan negaranya.
Tekanan Blokade Minyak dan Ancaman Terbuka dari Washington
Pemerintah Kuba saat ini berada di bawah tekanan berat karena Washington memberlakukan blokade minyak dan secara terbuka menyatakan keinginan untuk mengakhiri kebuntuan hubungan yang telah berlangsung hampir tujuh dekade dengan negara komunis satu partai tersebut. Menlu AS Marco Rubio menegaskan bahwa keputusan Kuba untuk mengizinkan eksil berinvestasi dan memiliki bisnis tidak cukup untuk memenuhi tuntutan reformasi pasar bebas dari pemerintahan Trump.
"Apa yang mereka umumkan kemarin tidak cukup dramatis. Itu tidak akan memperbaikinya. Jadi mereka harus membuat beberapa keputusan besar," kata Rubio, seorang Kuba-Amerika dan kritikus vokal partai penguasa, kepada wartawan di Gedung Putih.
Deklarasi Menantang dari Pemimpin Kuba
Presiden Donald Trump, yang telah memberikan tekanan besar pada pemerintahan komunis Kuba, mengatakan pada Senin (16/3) bahwa ia akan "mengambil alih" Kuba, dengan menambahkan: "Kita akan melakukan sesuatu dengan Kuba segera." Namun, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel bersikap menantang menghadapi ancaman ini.
"Menghadapi skenario terburuk, Kuba memiliki satu jaminan: setiap agresor eksternal akan menghadapi perlawanan yang tak tergoyahkan," tulisnya dalam sebuah pernyataan di platform media sosial X. Kuba terbuka untuk pembicaraan luas dengan Washington dan mengizinkan lebih banyak investasi, tetapi menegaskan bahwa perubahan sistem politik tidak akan pernah menjadi bagian dari negosiasi.
Penegasan Kedaulatan dan Hak Menentukan Nasib Sendiri
Tanieris Dieguez, wakil kepala misi Kuba di Washington, menyatakan bahwa kedua negara tetangga itu "memiliki banyak hal untuk dibahas" tetapi tidak satu pun dari mereka boleh meminta negara lain untuk mengubah pemerintahannya. "Tidak ada yang berkaitan dengan sistem politik kita, tidak ada yang berkaitan dengan model politik kita—model konstitusional kita—yang menjadi bagian dari negosiasi, dan tidak akan pernah menjadi bagian dari itu," katanya.
Dieguez menekankan bahwa satu-satunya hal yang diminta Kuba dalam setiap percakapan adalah penghormatan terhadap kedaulatan dan hak untuk menentukan nasib sendiri. The New York Times, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah menyerukan agar Kuba memecat Diaz-Canel, yang dianggap resisten terhadap perubahan, namun Rubio membantah laporan tersebut sebagai palsu.
Krisis Listrik dan Dampak Ekonomi yang Memperparah Situasi
Pemadaman listrik total pada Senin (16/3) semakin menekankan kondisi ekonomi Kuba yang genting. Negara itu kehilangan Venezuela sebagai sekutu regional utama dan pemasok minyaknya pada Januari lalu setelah operasi militer AS menggulingkan pemimpin sosialis Venezuela, Nicolas Maduro. Sistem pembangkit listrik Kuba yang sudah tua berada dalam kondisi kacau, dengan pemadaman listrik harian hingga 20 jam menjadi hal biasa di beberapa bagian pulau.
Sejak penggulingan Maduro pada 3 Januari, ekonomi pulau itu semakin terpukul oleh blokade minyak AS secara de facto. Tidak ada impor minyak ke Kuba sejak 9 Januari, yang berdampak pada sektor energi dan memaksa maskapai penerbangan untuk mengurangi penerbangan, sebuah pukulan bagi sektor pariwisata yang sangat penting.
Pernyataan Eksplisit Trump dan Respons Kuba yang Tegas
Trump secara eksplisit mengatakan dia ingin pemerintah Kuba jatuh. "Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya telah mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba. Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?" kata Trump kepada wartawan pada Senin (16/3). "Saya percaya saya akan... mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba," tambahnya, dengan menyebut Kuba sebagai negara yang sangat lemah saat ini.
Dalam menghadapi ancaman ini, Kuba tetap berpegang pada prinsip kedaulatan dan kesiapan untuk melawan, menegaskan bahwa setiap upaya agresi akan dihadapi dengan perlawanan yang tak terkalahkan dari rakyatnya.
