Ketegangan AS-Iran Memanas, Latihan Militer dan Ancaman Nuklir Menguat
Ketegangan AS-Iran Memanas, Latihan Militer dan Ancaman Nuklir

Ketegangan AS-Iran Mencapai Titik Didih, Latihan Militer dan Ancaman Nuklir Menguat

Jakarta - Pengerahan aset militer Amerika Serikat (AS) secara besar-besaran ke kawasan sekitar Iran telah memicu eskalasi ketegangan yang signifikan antara kedua negara. Konflik terbuka antara AS dan Iran semakin mungkin terjadi dalam waktu dekat, mengingat langkah-langkah militer dan pernyataan keras dari kedua belah pihak.

Pidato Trump dan Ancaman Nuklir

Dalam pidato terbarunya di hadapan Kongres AS, Presiden Donald Trump secara khusus menyinggung soal Iran. Dia menjelaskan bahwa tujuan utama pengiriman pasukan dan kapal induk ke Timur Tengah adalah untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. "Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi kita belum mendengar kata-kata rahasia itu: Kami tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ujar Trump dalam bagian pidatonya yang relatif singkat mengenai Iran.

Meskipun Trump menegaskan pilihan diplomasi, AS telah mengerahkan dua kapal induknya ke kawasan tersebut. USS Abraham Lincoln sudah berada di Timur Tengah, sementara USS Gerald R Ford, kapal induk terbesar di dunia, telah tiba di pangkalan AS di Teluk Souda, Yunani. Trump bersikeras bahwa Iran masih berupaya memajukan program nuklir mereka, bahkan setelah klaimnya bahwa serangan AS pada Juni tahun lalu telah "memusnahkan program senjata nuklir Iran".

Penyangkalan Iran dan Perundingan Nuklir

Iran telah berulang kali menyatakan dengan tegas bahwa mereka tidak sedang mengembangkan bom nuklir. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini menegaskan kembali posisi ini melalui media sosial X. "Keyakinan mendasar kami sangat jelas: Iran dalam keadaan apa pun tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir," tegas Araghchi.

Araghchi memimpin delegasi Iran dalam perundingan nuklir yang sedang berlangsung dengan AS, dengan putaran terbaru dijadwalkan pada Kamis (26/2) di Jenewa, Swiss. Oman bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan tidak langsung ini. Namun, banyak negara tetap meragukan kejujuran Iran, mengingat sejarah Teheran yang pernah memperkaya uranium hingga mendekati level senjata.

Latihan Militer Iran di Tengah Ketegangan

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kini sedang melakukan latihan perang di pantai selatan negara itu di Teluk Persia. Latihan militer ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS, yang telah mengancam akan menyerang Iran. "Latihan gabungan 1404 (2026) Pasukan Darat IRGC telah dimulai," lapor televisi pemerintah Iran.

Latihan tersebut berfokus di wilayah pantai selatan, tetapi juga terjadi di bagian lain Iran. Latihan melibatkan berbagai aset militer, termasuk:

  • Drone dan kapal
  • Kendaraan amfibi dan lapis baja
  • Rudal darat-ke-laut dan roket
  • Artileri dan pasukan khusus

Mohammad Karami, komandan pasukan darat IRGC, menyatakan bahwa latihan ini dirancang "berdasarkan ancaman yang ada," tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Latihan militer ini berlangsung setelah Washington dan Teheran menyelesaikan dua putaran pembicaraan yang dimediasi Oman, dengan putaran berikutnya dijadwalkan segera.

Prospek Konflik dan Diplomasi

Situasi saat ini menunjukkan bahwa ketegangan antara AS dan Iran berada pada level yang mengkhawatirkan. Pengerahan militer AS dan latihan perang Iran saling berbalasan, menciptakan dinamika yang rentan terhadap konflik terbuka. Perundingan nuklir di Jenewa menjadi titik kritis bagi upaya diplomasi, tetapi ketidakpercayaan antara kedua negara tetap tinggi.

Jika perundingan gagal, risiko eskalasi militer bisa meningkat drastis. Dunia internasional memantau dengan cermat perkembangan ini, mengingat potensi dampak global dari konflik AS-Iran, terutama terkait stabilitas Timur Tengah dan proliferasi senjata nuklir.