Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai belum cukup menjamin stabilitas di Timur Tengah selama agresi Israel di Lebanon masih berlangsung. Hal ini disampaikan oleh Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala.
Harapan Baru di Tengah Ketegangan
Menurut Darmansjah, kesepakatan tersebut memang membuka harapan baru bagi upaya perdamaian di kawasan. Namun, ia menilai prospek perdamaian itu masih menghadapi tantangan besar setelah Israel kembali melancarkan serangan militer ke Lebanon selatan.
"Meskipun AS dan Iran sudah menyetujui kesepakatan damai, prospeknya di Timur Tengah masih diragukan," kata Darmansjah dikutip dari Antara, Senin (22/6/2026).
Agresi Israel di Lebanon
Serangan terbaru Israel ke Lebanon selatan dinilai memperkeruh situasi yang sudah rapuh. Darmansjah menekankan bahwa stabilitas kawasan tidak bisa dicapai hanya melalui kesepakatan bilateral AS-Iran, tetapi juga harus melibatkan penyelesaian konflik Israel-Palestina dan penghentian agresi Israel terhadap negara-negara tetangga.
"Kesepakatan damai ini merupakan langkah positif, tetapi tanpa mengatasi akar masalah di Lebanon dan Palestina, stabilitas jangka panjang sulit terwujud," tambahnya.
Dampak terhadap Kawasan
Ketidakpastian di Timur Tengah berdampak pada berbagai sektor, termasuk keamanan energi global dan arus perdagangan internasional. Negara-negara tetangga seperti Yordania dan Mesir juga ikut merasakan dampak dari ketegangan yang berkepanjangan.
Darmansjah mengingatkan bahwa komunitas internasional perlu mendorong gencatan senjata yang komprehensif di Lebanon dan jalur diplomatik yang inklusif untuk mencapai perdamaian abadi.



