Jerman dan Sekutu Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz: 'Ini Bukan Perang Kami'
Jerman Cs Tolak Kirim Kapal Perang ke Hormuz

Jerman dan Sekutu Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz: 'Ini Bukan Perang Kami'

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menyerukan kepada negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz. Tujuannya adalah melindungi kapal-kapal dagang dan memulihkan pasokan minyak dunia yang terganggu. Namun, seruan ini dijawab dengan penolakan keras dari beberapa negara kunci, termasuk Jerman, Inggris, Spanyol, Australia, dan Jepang.

Seruan Trump dan Respons Negatif dari Sekutu

Pada Sabtu, 14 Maret 2026, Trump menulis di platform Truth Social, mendesak UK, China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan negara lain untuk bergabung dalam upaya bersama membuka jalur laut tersebut. Ia mengulangi seruannya dalam unggahan Sabtu malam, menegaskan bahwa AS akan memberikan dukungan besar bagi negara yang bersedia ambil bagian. Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump menyatakan bahwa kegagalan menjamin keamanan transportasi maritim akan sangat merugikan masa depan NATO.

Selat Hormuz, yang merupakan rute pengiriman minyak tersibuk di dunia dengan sekitar 20% pasokan global, telah ditutup oleh Teheran sebagai balasan atas serangan udara AS dan Israel. Penutupan ini memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah dan lonjakan harga minyak mentah.

Penolakan Tegas dari Berbagai Negara

Di Inggris, Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas di Iran. Ia menyatakan bahwa London sedang bekerja sama dengan sekutu untuk merumuskan rencana membuka kembali Selat Hormuz, namun menekankan bahwa misi tersebut bukan bagian dari NATO.

Di Jerman, Menteri Pertahanan Boris Pistorius menolak permintaan Trump secara mentah-mentah. "Apa yang diharapkan Trump dari segelintir fregat Eropa yang tidak mampu dilakukan oleh Angkatan Laut AS yang begitu kuat?" cetusnya. "Ini bukan perang kami. Kami tidak memulainya." Juru bicara Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menambahkan bahwa perang melawan Iran tidak ada kaitannya dengan NATO dan bukan perang NATO, serta menutup kemungkinan keterlibatan Jerman karena tidak ada mandat dari PBB, Uni Eropa, atau NATO.

Di Spanyol, pemerintah menegaskan tidak akan ikut serta dalam operasi militer di Selat Hormuz, menilai perang AS-Israel melawan Iran sebagai tindakan ilegal. Menteri Pertahanan Margarita Robles menolak permintaan Trump untuk dukungan militer dan menepis ancaman soal masa depan buruk bagi sekutu NATO yang menolak.

Di Jepang, Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menyatakan bahwa melihat situasi terkini dengan Iran, mereka tidak mempertimbangkan peluncuran operasi keamanan maritim. Di Australia, Menteri Infrastruktur dan Transportasi Catherine King juga menegaskan negaranya tidak akan mengirim kapal perang.

Respons Lain dan Pernyataan Iran

China, melalui juru bicara kedutaan besarnya di Washington, menekankan bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab untuk menjamin pasokan energi yang stabil, tanpa menyebutkan apakah akan menerima permintaan Trump. Korea Selatan menyatakan akan menjaga komunikasi erat dengan AS dan mengambil keputusan setelah kajian cermat.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran tidak meminta gencatan senjata dan Selat Hormuz akan tetap tertutup bagi musuh-musuhnya. Ia menyatakan bahwa selat itu terbuka dari sudut pandang Iran, hanya tertutup bagi mereka yang melakukan agresi.

Analisis dan Ironi Pernyataan Trump

Menurut koresponden diplomatik BBC, Paul Adams, pernyataan Trump bahwa kegagalan mengamankan Selat Hormuz akan sangat buruk bagi masa depan NATO mengandung tafsir atas tujuan aliansi tersebut. Jenderal Nick Carter, mantan Kepala Staf Pertahanan UK, menegaskan bahwa NATO adalah aliansi pertahanan, bukan dirancang agar satu anggota bisa berperang atas inisiatif sendiri dan memaksa semua ikut serta.

Adams juga menyoroti ironi pernyataan Trump, mengingat dua bulan lalu ia berkeras mengklaim Greenland, wilayah berdaulat milik anggota NATO. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa respons dari sekutu terdengar begitu blak-blakan. Dari Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa ia meminta bantuan negara lain bukan karena AS membutuhkannya, tetapi untuk melihat bagaimana mereka bereaksi, sambil menegaskan bahwa AS selalu melindungi negara lain tetapi tidak dilindungi ketika dibutuhkan.