Israel Klaim Ingin Damai dengan Lebanon, Sebut Hizbullah sebagai Masalah Utama
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar secara terbuka mengungkapkan bahwa negaranya memiliki keinginan kuat untuk mencapai perdamaian dan normalisasi hubungan dengan Lebanon. Pernyataan ini disampaikan menjelang pembicaraan damai yang direncanakan antara kedua negara, yang telah lama terlibat dalam konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan Resmi dalam Konferensi Pers
Dalam konferensi pers bersama Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Ceko Petr Macinka yang sedang berkunjung ke Tel Aviv, Saar menegaskan, "Kami ingin mencapai perdamaian dan normalisasi dengan negara Lebanon... Israel dan Lebanon tidak memiliki perselisihan besar di antara mereka. Masalahnya adalah Hizbullah." Pernyataan ini dilansir dari AFP pada Selasa, 14 April 2026, dan menekankan bahwa konflik utama bukan antara kedua negara, melainkan dengan kelompok militan tersebut.
Latar Belakang Konflik dan Dampaknya
Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah setelah Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel. Perang ini memicu invasi darat dan serangan udara Israel, termasuk serangan hebat di Beirut pada 8 April. Pertempuran telah menyebabkan:
- Lebih dari 2.000 orang tewas di Lebanon
- Lebih dari satu juta orang mengungsi akibat konflik
Serangan Hizbullah ke Israel pada 2 Maret, menurut Saar, "bertentangan dengan kehendak pemerintah Lebanon" dan menciptakan masalah keamanan bagi Israel yang juga menjadi ancaman bagi kedaulatan Lebanon.
Pembicaraan Damai di Washington
Pertemuan antara Lebanon dan Israel di Washington akan menjadi pembicaraan pertama sejak 1993, dimediasi oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan dihadiri oleh duta besar kedua negara untuk Amerika Serikat. Saar menambahkan, "Ini Hizbullah. Masalahnya sama. Dan masalah ini perlu diatasi agar kita bisa beralih ke fase yang berbeda."
Tantangan dan Penolakan
Meskipun Lebanon telah menyerukan gencatan senjata, Israel menolak usulan tersebut dan bersikeras pada pelucutan senjata Hizbullah sebagai prasyarat perdamaian. Di sisi lain, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, mendesak Lebanon untuk membatalkan pembicaraan damai di Washington, menunjukkan kompleksitas situasi dan perbedaan pendapat yang tajam di dalam negeri Lebanon sendiri.
Dengan latar belakang ini, upaya perdamaian antara Israel dan Lebanon menghadapi tantangan berat, terutama karena peran sentral Hizbullah dalam dinamika politik dan keamanan regional. Kedua pihak perlu menemukan titik temu untuk mengakhiri konflik yang telah merenggut banyak korban jiwa dan mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah.



