Iran Tegaskan Syarat Akhiri Perang: Jaminan Tak Terulang dan Ganti Rugi
Iran Tetapkan Syarat Akhiri Perang, Tolak Negosiasi AS

Iran Tegaskan Hanya Akan Akhiri Perang dengan Syarat-Syaratnya Sendiri

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran ingin mengakhiri perang dengan syarat-syaratnya sendiri, dan dengan cara yang memastikan tidak akan ada lagi konflik serupa di masa depan. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, seperti dilaporkan kantor berita AFP pada Kamis, 26 Maret 2026.

"Tentu saja, kami menginginkan penghentian perang dengan syarat-syarat kami sendiri, dan dengan cara bahwa itu (perang) tidak akan terulang lagi di sini," kata Araghchi. Dia menambahkan bahwa Iran tidak berencana untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan bermaksud untuk terus melakukan perlawanan, meskipun Gedung Putih menyatakan bahwa pembicaraan sedang berlangsung.

Penolakan Negosiasi dan Komitmen pada Perlawanan

Araghchi dengan tegas menyatakan bahwa kebijakan Iran saat ini adalah melanjutkan perlawanan, dan tidak ada niat untuk bernegosiasi dengan AS. "Saat ini, kebijakan kita adalah melanjutkan perlawanan. Kita tidak berniat untuk bernegosiasi -- sejauh ini, belum ada negosiasi yang terjadi, dan saya percaya posisi kita sepenuhnya berprinsip," ujarnya. Dia bahkan menganggap bahwa membicarakan negosiasi saat ini sama dengan mengakui kekalahan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pernyataan ini muncul setelah Gedung Putih mengancam akan "mengamuk" terhadap Iran jika tidak bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan damai. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut bahwa pembicaraan yang berlangsung adalah produktif, namun Iran tetap bersikeras pada pendiriannya.

Lima Syarat Khusus untuk Mengakhiri Perang

Seorang pejabat senior bidang politik dan keamanan Iran, yang berbicara secara eksklusif kepada media Iran Press TV, menguraikan lima syarat spesifik yang harus dipenuhi agar Teheran setuju mengakhiri perang. Pejabat yang tidak ingin disebut namanya ini menekankan bahwa Iran tidak akan membiarkan Presiden AS Donald Trump mendikte waktu berakhirnya konflik.

"Iran akan mengakhiri perang ketika memutuskan untuk melakukannya dan ketika syarat-syaratnya sendiri terpenuhi," kata pejabat tersebut. Dia juga menyebutkan bahwa proposal yang diajukan Washington melalui saluran diplomatik dianggap "berlebihan" dan tidak sesuai dengan kenyataan kegagalan Amerika di medan perang.

Syarat-syarat yang ditetapkan Iran meliputi:

  • Penghentian total "agresi dan pembunuhan" oleh musuh.
  • Pembentukan mekanisme konkret untuk memastikan bahwa perang tidak akan dilakukan kembali terhadap Republik Islam Iran.
  • Pembayaran ganti rugi perang dan reparasi yang dijamin dan didefinisikan dengan jelas.
  • Penghentian perang di semua front dan untuk semua kelompok perlawanan yang terlibat di seluruh wilayah.
  • Pengakuan bahwa penggunaan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz adalah hak alami dan sah Iran, serta merupakan jaminan untuk pelaksanaan komitmen pihak lain.

Pejabat itu menekankan bahwa syarat-syarat ini merupakan tambahan dari tuntutan yang sebelumnya diajukan Teheran selama putaran kedua negosiasi di Jenewa, yang berlangsung beberapa hari sebelum serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.

Tekad Iran untuk Bertahan dan Memberikan Pukulan

Pejabat Iran tersebut juga menyatakan tekad Teheran untuk melanjutkan pertahanan dan memberikan "pukulan berat" kepada musuh sampai tuntutannya terpenuhi. Ini menunjukkan bahwa Iran tetap berkomitmen pada posisi prinsipnya, meskipun tekanan dari AS terus meningkat.

Dengan demikian, situasi ini menggarisbawahi ketegangan yang masih tinggi antara Iran dan Amerika Serikat, di mana jalan menuju perdamaian tampaknya masih panjang dan penuh dengan syarat-syarat yang ketat dari pihak Teheran.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga