Iran Tegaskan Tidak Pernah Minta Gencatan Senjata dalam Konflik dengan AS dan Israel
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak pernah mengajukan permintaan gencatan senjata di tengah konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan ini disampaikan Araghchi dalam konferensi pers mingguan Kementerian Luar Negeri yang digelar di Teheran pada hari Senin, 16 Maret 2026.
Komitmen pada Perlawanan yang Tak Tergoyahkan
Dalam pernyataannya, Araghchi menekankan bahwa Iran tetap berpegang pada prinsip "perlawanan yang terhormat dan tak tergoyahkan" dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai agresi dari AS dan Israel. Ia menegaskan bahwa posisi ini konsisten dan tidak berubah meskipun tekanan militer terus meningkat.
"Iran tidak mengirim pesan apa pun dan tidak mengajukan permintaan gencatan senjata setelah dimulainya kampanye militer AS dan Israel," ujar Araghchi, seperti dikutip dari media Iran, Tasnim News Agency. Pernyataan ini sekaligus membantah berbagai spekulasi yang beredar mengenai kemungkinan adanya upaya diplomatik dari Iran untuk menghentikan konflik.
Latar Belakang Konflik dan Respons Internasional
Konflik antara Iran dengan AS dan Israel telah memanas dalam beberapa bulan terakhir, dengan eskalasi militer yang signifikan di kawasan Timur Tengah. Beberapa poin penting yang perlu dicatat:
- Iran menuduh AS dan Israel melakukan agresi yang tidak beralasan terhadap kedaulatannya.
- AS dan Israel, di sisi lain, mengklaim bahwa tindakan mereka adalah respons terhadap ancaman keamanan dari Iran.
- Komunitas internasional telah mengeluarkan seruan untuk de-eskalasi, tetapi sejauh ini belum ada tanda-tanda gencatan senjata.
Dengan pernyataan ini, Araghchi memperjelas bahwa Iran tidak berniat untuk mundur atau mencari jalan damai dalam waktu dekat. Ia menambahkan bahwa perang harus berakhir selamanya, tetapi hanya dengan cara yang menghormati kedaulatan dan hak-hak Iran.
Observator politik menilai bahwa pernyataan ini dapat memperpanjang ketegangan di kawasan, sambil menunggu respons lebih lanjut dari pihak AS dan Israel. Situasi ini terus dipantau secara ketat oleh berbagai negara dan organisasi internasional.
