Iran Tegaskan Tak Pernah Minta Gencatan Senjata dari Agresi AS-Israel
Iran Tegaskan Tak Pernah Minta Gencatan Senjata dari AS-Israel

Iran Tegaskan Tak Pernah Minta Gencatan Senjata dari Agresi AS-Israel

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas menyatakan bahwa negaranya belum pernah mengajukan permintaan gencatan senjata terhadap agresi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers mingguan juru bicara Kementerian Luar Negeri yang digelar di Teheran pada Senin, 16 Maret 2026.

Pernyataan Resmi di Teheran

Dalam konferensi pers tersebut, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak pernah mengirim pesan maupun mengajukan permintaan gencatan senjata sejak serangan militer AS-Israel dimulai. Ia menekankan bahwa posisi Iran sangat jelas dan tidak berubah dalam menghadapi tekanan dari kedua negara tersebut.

"Tidak, kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi. Kami siap membela diri selama diperlukan. Dan inilah yang telah kami lakukan sejauh ini, dan kami akan terus melakukannya sampai Presiden Trump menyadari bahwa ini adalah perang ilegal tanpa kemenangan," kata Araghchi, seperti dilansir dari NPR pada Senin.

Kesiapan Iran untuk Bertahan

Araghchi menambahkan bahwa Iran telah dan akan terus mempertahankan diri dari agresi yang dianggapnya ilegal. Pernyataan ini mencerminkan keteguhan Iran dalam menghadapi konflik yang sedang berlangsung, tanpa menunjukkan tanda-tanda keinginan untuk berkompromi atau memulai dialog perdamaian dalam waktu dekat.

Konferensi pers ini menjadi momen penting untuk memperjelas posisi Iran di mata dunia internasional, terutama dalam konteks ketegangan yang meningkat dengan AS dan Israel. Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur dari prinsipnya untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasional.

Implikasi bagi Hubungan Internasional

Pernyataan ini berpotensi memperburuk hubungan diplomatik antara Iran dengan AS dan Israel, yang sudah memanas dalam beberapa tahun terakhir. Iran menuduh kedua negara tersebut melancarkan perang ilegal, sementara AS dan Israel mungkin melihat pernyataan ini sebagai penolakan Iran terhadap upaya perdamaian.

Dengan volume berita yang diperluas, laporan ini memberikan konteks lebih mendalam tentang situasi geopolitik yang kompleks, di mana Iran tetap pada pendiriannya tanpa menunjukkan niat untuk mengakhiri konflik melalui jalur diplomatik konvensional.