Pemimpin Baru Iran Tegaskan Tak Ingin Perang, Tapi Siap Pertahankan Hak Bangsa
Jakarta - Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, secara tegas menyatakan bahwa Republik Islam tersebut tidak menginginkan perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Namun, dalam pesan tertulisnya yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Kamis (9/4) waktu setempat, dia menegaskan bahwa Iran akan melindungi hak-haknya sebagai sebuah bangsa yang berdaulat.
"Kami tidak mencari-cari perang dan kami tidak menginginkannya," kata Mojtaba Khamenei dalam pesan yang dibacakan di televisi pemerintah. Pernyataan ini disampaikan beberapa minggu setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, wafat pada 28 Februari, tepat di hari pertama perang melawan AS-Israel.
Delegasi Iran di Pakistan dan Isu Gencatan Senjata
Dalam perkembangan terkait, Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, menarik postingan media sosial yang menyatakan bahwa delegasi Iran diperkirakan tiba di Islamabad pada Kamis (9/4) malam. Kedatangan ini terkait dengan negosiasi lanjutan dengan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Pakistan.
Dalam postingan di platform X yang kemudian dihapus, Moghadam mengatakan bahwa "meskipun ada skeptisisme karena pelanggaran gencatan senjata berulang kali oleh rezim Israel", Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif tetap menyambut delegasi Iran untuk "pembicaraan serius". Delegasi Iran tersebut tiba untuk pembicaraan berdasarkan 10 poin yang diusulkan oleh Iran.
Partai Republik AS Gagalkan Upaya Hentikan Serangan ke Iran
Di Washington, anggota DPR Amerika Serikat dari Partai Republik berhasil menggagalkan upaya Partai Demokrat untuk mengakhiri serangan AS terhadap Iran. Partai Republik di parlemen AS terus mencegah berbagai upaya untuk membatasi wewenang Presiden Donald Trump dalam perang melawan Iran.
Anggota DPR AS dari Partai Republik, Chris Smith, yang mewakili New Jersey, memimpin sesi "pro forma" singkat pada Kamis (9/4) dan mengakhirinya sebelum sekelompok politisi Partai Demokrat dapat mengesahkan resolusi yang menyerukan penghentian operasi militer AS terhadap Iran.
Israel Tegaskan Tak Ada Gencatan Senjata di Lebanon
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa "tidak ada gencatan senjata di Lebanon", meskipun dia telah memerintahkan dimulainya negosiasi langsung dengan Beirut. Pemerintah Israel bersikeras menyatakan bahwa gencatan senjata selama dua minggu, yang disepakati antara Amerika Serikat dan Iran pada Selasa (7/4), tidak mencakup Lebanon.
Netanyahu kembali menyampaikan penegasan serupa dalam pernyataan via video yang diposting ke media sosial X pada Kamis (9/4) waktu setempat. Lebanon menjadi markas kelompok Hizbullah yang terlibat pertempuran sengit dengan Israel beberapa waktu terakhir.
Mantan Menlu Iran Meninggal Akibat Serangan AS-Israel
Dalam perkembangan tragis lainnya, mantan Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharrazi, meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita dalam serangan Amerika Serikat-Israel awal pekan ini. Menurut laporan media Iran Press TV, Kharrazi yang terluka dalam serangan pada 1 April lalu yang menargetkan rumahnya di Teheran, meninggal pada Kamis (9/4) malam waktu setempat.
Istrinya juga meninggal dalam serangan yang sama, menambah daftar korban dalam konflik yang semakin memanas ini. Kematian mantan pejabat tinggi Iran ini semakin memperkeruh hubungan antara Iran dengan AS dan Israel.
Pernyataan Mojtaba Khamenei yang menegaskan Iran tidak menginginkan perang namun siap mempertahankan hak-haknya mencerminkan posisi tegas negara tersebut di tengah eskalasi konflik regional yang semakin kompleks. Situasi ini terus dipantau oleh komunitas internasional yang mengkhawatirkan potensi perluasan konflik di Timur Tengah.



