Iran Bersumpah Balas Dendam Hingga Napas Terakhir Usai Serangan AS-Israel
Iran Sumpah Balas Dendam Hingga Napas Terakhir

Iran Sumpah Lakukan Pembalasan Hingga Napas Terakhir Pasca Serangan AS-Israel

Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Baqer Ghalibaf, dengan tegas bersumpah untuk membalas kematian anak-anak yang menjadi korban dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Dalam pernyataan yang penuh emosi, Ghalibaf menegaskan bahwa pembalasan akan dilakukan hingga "napas terakhir kita", menandai komitmen kuat Iran dalam menuntut keadilan.

Duka Mendalam di Kota Minab

Ungkapan sumpah tersebut disampaikan menyusul serangan tragis yang menghancurkan Sekolah Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Serangan yang terjadi pada hari Sabtu lalu itu menewaskan 165 anak-anak dan melukai hampir 100 orang lainnya, menciptakan kepiluan mendalam di seluruh negeri.

Ghalibaf menyoroti kata-kata emosional seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam tragedi tersebut, melalui unggahan di media sosial X. Legislator terkemuka itu menyatakan dukungan tak tergoyahkan bagi keluarga korban, menekankan bahwa rakyat Iran tidak akan berhenti sampai darah anak-anak mereka yang tak berdosa terbalaskan.

Prosesi Pemakaman dan Kecamatan Internasional

Pada Selasa pagi waktu setempat, warga Minab turun ke jalan untuk meratapi kehilangan anak-anak mereka. Para pelayat, banyak membawa peti mati kecil dan foto-foto korban, berkumpul di kota untuk prosesi pemakaman yang mengharukan.

Serangan tersebut menargetkan bangunan dua lantai yang menampung sekolah putra dan putri, menyebabkan kehancuran besar-besaran. Asap tebal mengepul dari puing-puing sementara tim darurat berusaha mencari korban selamat di antara reruntuhan.

Skala tragedi ini telah memicu kecaman luas dari para pejabat Iran. Jaksa Minab menyebut serangan itu sebagai tindakan "kriminal" dan "biadab", menekankan bahwa korban tidak hanya mencakup anak-anak, tetapi juga staf pendidikan dan orang tua yang berada di lokasi.

Komitmen Pembalasan yang Tak Tergoyahkan

Dalam pesannya yang dilansir media Iran Press TV, Ghalibaf menulis: "Kita adalah pembalas darah anak-anak Iran yang tidak bersalah dan tertindas hingga napas terakhir kita." Pernyataan ini menggambarkan tekad Iran untuk tidak tinggal diam atas serangan yang menargetkan fasilitas pendidikan dan menewaskan banyak anak-anak.

Serangan gabungan AS-Israel ini merupakan bagian dari eskalasi ketegangan yang sedang berlangsung di kawasan. Iran terus berduka atas korban jiwa yang jatuh, sambil bersumpah akan menuntut pertanggungjawaban atas tindakan yang mereka sebut sebagai pelanggaran kemanusiaan.