Iran Serang Pasukan Separatis Anti-Iran di Kurdistan Irak
Jakarta - Pasukan Iran dilaporkan telah melancarkan serangan terhadap pasukan separatis anti-Iran di wilayah Kurdi, Irak. Iran menyatakan bahwa kelompok tersebut bersekutu dengan Amerika Serikat (AS) dan berencana untuk menyerang pasukan keamanan Iran.
Ledakan Menerangi Malam di Wilayah Kurdi
Sebagaimana dilansir dari Aljazeera, Kamis (5/3/2026), dalam tayangan video di platform X, Stasiun Televisi Iran Press TV melaporkan bahwa ledakan-ledakan tersebut menerangi malam di wilayah itu. Media tersebut tidak menyebutkan lokasi pasti dari serangan tersebut, namun sumber lokal mengindikasikan bahwa serangan terjadi di Provinsi Sulaimaniyah di Irak Utara.
Sumber-sumber lokal mengungkapkan bahwa serangan tersebut menargetkan markas besar Asosiasi Buruh Kurdistan, atau yang dikenal sebagai Komala. Kelompok ini merupakan sebuah organisasi bersenjata Kurdi Iran yang berbasis di Irak dan telah lama menjadi oposisi terhadap pemerintah Iran.
Konsultasi dengan Amerika Serikat
Serangan ini terjadi di tengah laporan bahwa kelompok bersenjata Kurdi Iran tersebut telah berkonsultasi dengan AS dalam beberapa hari terakhir. Konsultasi tersebut membahas kemungkinan dan cara-cara untuk menyerang pasukan keamanan Iran di bagian barat negara itu.
Menurut laporan dari kantor berita Reuters, koalisi kelompok Kurdi Iran yang berbasis di perbatasan Iran-Irak telah berlatih secara intensif untuk melancarkan serangan semacam itu. Latihan ini dilakukan dengan harapan dapat melemahkan militer Iran dan menciptakan tekanan tambahan pada pemerintah di Teheran.
Bantahan dari Iran
Sebelumnya, kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Iran membantah laporan mengenai pejuang Kurdi bersenjata yang menyeberang ke Iran dari Irak. Bantahan ini muncul sebagai upaya untuk meredam ketegangan dan menyangkal adanya infiltrasi dari kelompok separatis tersebut.
Serangan terbaru ini menambah daftar ketegangan di kawasan Timur Tengah, di mana Iran sering kali terlibat dalam konflik dengan kelompok-kelompok yang dianggap sebagai ancaman terhadap kedaulatannya. Situasi ini juga menyoroti kompleksitas hubungan antara Iran, Irak, dan kelompok Kurdi yang mencari otonomi lebih besar.
Insiden ini terjadi dalam konteks yang lebih luas dari dinamika geopolitik regional, di mana Amerika Serikat sering kali dituding oleh Iran sebagai pendukung kelompok-kelompok oposisi. Iran secara konsisten menegaskan haknya untuk membela diri dari ancaman yang berasal dari luar perbatasannya, sementara kelompok Kurdi terus memperjuangkan hak-hak mereka di wilayah yang secara historis mereka diami.
