Pemerintah Iran dilaporkan melibatkan tim psikolog senior untuk mempelajari pikiran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump selama proses negosiasi berlangsung antara kedua negara yang berkonflik itu. Para psikolog senior itu bahkan direkrut sebagai bagian dari delegasi negosiator Iran, yang melakukan perundingan tidak langsung dengan AS, yang dimediasi oleh Pakistan, beberapa bulan terakhir.
Informasi tersebut, seperti dilansir berbagai media, seperti The Cradle dan DropSiteNews, pada Senin (15/6/2026), diungkapkan oleh seorang jurnalis investigasi AS, Jeremy Scahill, yang mendirikan media independen, DropSiteNews.
Ultah ke-80, Trump Nonton Laga UFC Berdarah di Gedung Putih
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merayakan ulang tahun ke-80 dengan pertunjukan machismo pada Minggu (14/6) malam waktu setempat. Halaman Gedung Putih diubah menjadi arena pertarungan Ultimate Fighting Championship (UFC) yang berdarah. Dalam pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Gedung Putih, seperti dilansir AFP, Senin (15/6/2026), Trump duduk bersama ribuan penggemar yang bersorak saat para petarung UFC saling menghajar dalam turnamen cage fight, atau pertarungan bela diri di dalam kandang.
Trump Ungkap Netanyahu Nyaris Gagalkan Kesepakatan Damai AS-Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu hampir menggagalkan kesepakatan damai antara AS dan Iran. Trump mengkritik Netanyahu sebagai "orang yang sangat sulit". Hal itu diungkapkan oleh Trump dalam wawancara eksklusif dengan New York Times (NYT), seperti dilansir The Jerusalem Post dan Anadolu Agency, Senin (15/6/2026). Wawancara itu dirilis setelah mediator Pakistan mengumumkan pada Senin (15/6) bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan damai. Trump, dalam wawancara via telepon dengan NYT pada Minggu (14/6) sore waktu AS, menyebut bahwa kesepakatan damai itu tercapai meskipun ada keberatan dari Netanyahu. Presiden AS itu bahkan mengklaim bahwa dirinya telah menyelamatkan Israel dari pemusnahan oleh nuklir.
Trump Ancam Serang Iran Lagi Jika Tak Capai Deal Nuklir
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir akhir dengan AS, maka akan ada serangan militer baru terhadap Teheran. Ancaman ini disampaikan Trump setelah pengumuman kesepakatan damai AS-Iran, yang awalnya diungkap oleh mediator Pakistan dan kemudian dikonfirmasi oleh Presiden AS tersebut dalam pernyataan terpisah. Dalam wawancara dengan media terkemuka AS, New York Times (NYT), seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (15/6/2026), Trump mengatakan bahwa kesepakatan yang telah dicapai antara AS dan Iran pada akhirnya akan memastikan bahwa Selat Hormuz "bebas pungutan tol secara permanen".
Israel Geram AS-Iran Sepakat Damai: Kami Bukan Bagian dari Kesepakatan
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir geram atas kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah, termasuk di Lebanon. Menteri garis keras Israel itu menegaskan bahwa negaranya tidak terikat oleh kesepakatan tersebut. "Kesepakatan Trump tidak mengikat kami... kami bukan pihak dalam kesepakatan ini. Kesepakatan ini tidak menjamin keamanan kami," kata Ben Gvir di saluran Telegram-nya, seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (15/6/2026). Ini merupakan reaksi pertama dari pejabat Israel terhadap kesepakatan tersebut. "Kita tidak boleh puas dengan apa pun selain pembubaran Hizbullah. Kita tidak boleh mundur dari sejengkal pun wilayah yang telah direbut dan dibersihkan dari infrastruktur teroris oleh tentara-tentara kita," imbuh menteri sayap kanan Israel itu.



