Iran Pertimbangkan Izinkan Tanker Minyak Lewati Selat Hormuz dengan Syarat Bayar Pakai Yuan
Iran Izinkan Tanker Lewati Selat Hormuz Jika Bayar Pakai Yuan

Iran Pertimbangkan Kebijakan Baru untuk Tanker Minyak di Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengeluarkan ancaman serius terhadap infrastruktur minyak di Pulau Kharg, Iran. Ancaman ini disampaikan sebagai respons atas upaya Teheran yang terus memblokir kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dalam perkembangan terbaru, Iran dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan sejumlah kecil kapal tanker minyak melewati selat strategis tersebut, dengan satu syarat utama: transaksi kargo minyak harus dilakukan menggunakan mata uang China, yuan.

Latar Belakang dan Implikasi Pasar Global

Dilansir dari CNN pada Minggu, 15 Maret 2026, seorang pejabat senior mengonfirmasi bahwa Republik Islam sedang mengerjakan rencana baru untuk mengelola arus kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Kebijakan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang memanas, terutama setelah perang di Iran dimulai oleh Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026. Serangan gabungan tersebut menyebabkan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Sebagai balasan, Iran telah melancarkan serangan terhadap Israel dan pangkalan AS di negara-negara kawasan Teluk, serta menutup Selat Hormuz. Sebelumnya, Iran juga menyatakan bahwa kapal-kapal minyak dapat melintas dengan syarat negara asal kapal tersebut mengusir duta besar AS dan Israel. Kini, syarat pembayaran dalam yuan menjadi alternatif yang dipertimbangkan, menandai pergeseran dalam dinamika perdagangan minyak internasional.

Dampak pada Perdagangan Minyak dan Upaya Kemanusiaan

Minyak internasional hampir seluruhnya diperdagangkan dalam dolar AS, dengan pengecualian minyak Rusia yang dikenai sanksi dan diperdagangkan dalam rubel atau yuan. Kekhawatiran pasar mengenai pembatasan di Selat Hormuz—yang merupakan jalur penting bagi energi dunia—telah mendorong harga minyak ke titik tertinggi sejak Juli 2022. Kondisi ini memperburuk ketidakstabilan ekonomi global, terutama di tengah konflik yang berlarut-larut.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperingatkan bahwa pembatasan arus kapal melalui Selat Hormuz akan berdampak besar pada upaya kemanusiaan. Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menegaskan bahwa ketika kapal berhenti bergerak melalui selat tersebut, konsekuensinya menyebar dengan cepat. Makanan, obat-obatan, pupuk, dan persediaan lainnya menjadi lebih sulit untuk dipindahkan dan lebih mahal untuk dikirim, mengancam jutaan orang yang bergantung pada bantuan internasional.

Analisis Kebijakan dan Masa Depan

Kebijakan Iran untuk mempertimbangkan penggunaan yuan dalam transaksi minyak di Selat Hormuz mencerminkan upaya Teheran untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memperkuat hubungan ekonomi dengan China. Langkah ini juga dapat dilihat sebagai respons strategis terhadap tekanan dari Amerika Serikat dan sekutunya. Dengan ancaman Trump yang masih menggantung, situasi di kawasan tersebut tetap sangat volatil dan berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut.

Para analis memprediksi bahwa jika kebijakan ini diterapkan, hal itu dapat mengubah lanskap perdagangan minyak global, dengan yuan semakin berperan sebagai mata uang alternatif. Namun, tantangan implementasi dan reaksi dari negara-negara lain, terutama AS, masih perlu dipantau. Keputusan Iran ini akan memiliki implikasi jangka panjang bagi stabilitas energi dan keamanan internasional, menjadikan Selat Hormuz sebagai titik fokus ketegangan dunia.