Iran Akan Izinkan Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz dengan Syarat Bayar Yuan
Iran Izinkan Kapal Tanker di Selat Hormuz dengan Bayar Yuan

Iran Berencana Izinkan Kapal Tanker Minyak Lewati Selat Hormuz dengan Syarat Transaksi Yuan

Jakarta - Iran dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz, dengan satu syarat utama: pembayaran harus dilakukan menggunakan mata uang asing China, yaitu yuan. Kabar ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, terutama setelah ancaman dari Amerika Serikat (AS) terhadap infrastruktur minyak Iran.

Latar Belakang Ancaman AS dan Blokade Iran

Seperti diketahui, baru-baru ini Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang fasilitas minyak di Pulau Kharg, Iran, jika Teheran terus memblokir kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ancaman ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang dimulai ketika perang di Iran pecah pada 28 Februari 2026, dipicu oleh serangan gabungan Israel dan AS yang menyebabkan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran saat itu.

Sebagai balasan, Iran telah menyerang Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk, serta menutup Selat Hormuz. Sebelumnya, Iran juga menyatakan bahwa kapal minyak bisa melintas jika negara asal kapal tersebut mengusir duta besar AS dan Israel.

Kebijakan Baru Iran dengan Transaksi Yuan

Menurut laporan dari CNN, seorang pejabat senior mengungkapkan bahwa Iran sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan sejumlah kecil kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz, dengan syarat bahwa kargo minyak tersebut diperdagangkan dalam yuan China. Langkah ini merupakan bagian dari rencana baru Iran untuk mengelola arus kapal tanker melalui selat strategis tersebut.

Minyak internasional hampir seluruhnya diperdagangkan dalam dolar AS, kecuali minyak Rusia yang dikenai sanksi dan diperdagangkan dalam rubel atau yuan. Dengan mengadopsi yuan, Iran tampaknya berusaha untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memperkuat hubungan ekonomi dengan China, sekaligus merespons tekanan sanksi dan konflik.

Dampak pada Pasar Minyak dan Upaya Kemanusiaan

Kekhawatiran pasar tentang pembatasan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi energi dunia, telah mendorong harga minyak ke titik tertinggi sejak Juli 2022. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa pembatasan arus kapal melalui selat ini akan berdampak besar pada upaya kemanusiaan, terutama dalam konteks perang yang berlanjut.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menekankan bahwa ketika kapal berhenti bergerak melalui Selat Hormuz, konsekuensinya menyebar dengan cepat. Makanan, obat-obatan, pupuk, dan persediaan lainnya menjadi lebih sulit untuk dipindahkan dan lebih mahal untuk dikirim, yang dapat memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Implikasi dan Prospek Ke Depan

Kebijakan Iran ini tidak hanya mencerminkan strategi ekonomi untuk menghindari sanksi, tetapi juga memperlihatkan dinamika kekuatan baru dalam perdagangan minyak global. Dengan beralih ke yuan, Iran mungkin menginspirasi negara-negara lain untuk mendiversifikasi mata uang dalam transaksi energi, meskipun hal ini masih dalam tahap pertimbangan awal.

Selain itu, situasi ini menyoroti kompleksitas konflik di Timur Tengah, di mana isu minyak, mata uang, dan keamanan saling terkait. Masyarakat internasional terus memantau perkembangan ini, mengingat potensi dampaknya yang luas terhadap stabilitas ekonomi dan politik global.