Iran Buka Peluang Aman untuk Kapal Jepang dan Korea Selatan di Selat Hormuz
Jakarta - Krisis energi global akibat perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memuncak dengan pemblokiran Selat Hormuz oleh Teheran. Namun, secercah harapan muncul bagi Jepang dan Korea Selatan (Korsel), dua negara yang tidak memutus hubungan diplomatik dengan AS, untuk mendapatkan kelonggaran dalam melintasi selat strategis tersebut.
Pernyataan Resmi dari Menteri Luar Negeri Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan Kyodo News yang dilansir AFP pada Minggu (22/3/2026), menegaskan bahwa Selat Hormuz sebenarnya masih terbuka. "Kami belum menutup selat tersebut. Menurut kami, selat tersebut terbuka. Selat itu hanya ditutup untuk kapal-kapal milik musuh kami, negara-negara yang menyerang kami. Untuk negara lain, kapal dapat melewati selat tersebut," ujarnya.
Araghchi mengungkapkan bahwa Iran sedang berdiskusi intensif dengan Jepang untuk memastikan keamanan pelayaran. "Kami sedang berbicara dengan mereka untuk menemukan cara agar dapat melewati selat dengan aman. Kami siap menyediakan jalur aman bagi mereka," tambahnya. Pernyataan ini disampaikan setelah panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, di mana Tokyo menyatakan keprihatinan atas banyaknya kapal Jepang yang terdampar di Teluk.
Dampak Krisis pada Jepang dan Korea Selatan
Jepang, yang mengimpor lebih dari 90 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah, sangat bergantung pada jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Namun, sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, selat ini secara de facto telah ditutup, mengancam pasokan energi negara tersebut.
Sementara itu, Korea Selatan juga aktif berkomunikasi dengan Iran dan negara-negara terkait untuk menormalkan jalur pelayaran. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korsel, seperti dilansir Yonhap, menyatakan, "Kami secara aktif berkomunikasi dengan negara-negara terkait, termasuk Iran," menunjukkan upaya diplomatik yang gencar.
Perkembangan Terkini dan Respons Internasional
Meski Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya mengancam akan membakar kapal yang mencoba melintasi selat, dalam sepekan terakhir, Iran menunjukkan kelunakan. Seiring perang memasuki pekan ketiga, beberapa negara sekutu AS, seperti Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Inggris, mengeluarkan pernyataan bersama untuk berkontribusi pada upaya pelayaran aman.
Selain itu, negara-negara seperti Irak, Malaysia, Tiongkok, India, dan Pakistan dilaporkan telah mengadakan pembicaraan langsung dengan Teheran, menurut layanan informasi maritim Lloyd's. Hal ini mengindikasikan upaya global untuk meredakan ketegangan dan memulihkan aliran perdagangan energi.
Dengan tawaran jalur aman dari Iran, Jepang dan Korea Selatan berpeluang mengurangi dampak krisis energi, meski tantangan diplomatik dan keamanan masih menghadang di tengah konflik yang berkepanjangan.



