Iran Bantah Pernyataan Trump Soal Negosiasi, Sebut Hanya Strategi Tekan Harga Energi
Iran Bantah Pernyataan Trump Soal Negosiasi dengan AS

Iran Tegaskan Tidak Ada Dialog dengan AS, Sebut Klaim Trump Hanya Strategi Tekan Harga Energi

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas menyusul pernyataan kontradiktif antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran secara resmi membantah telah mengadakan pembicaraan apa pun dengan Amerika Serikat, bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang menyatakan telah terjadi percakapan produktif antara kedua pihak.

Bantahan Resmi dari Teheran

Kantor berita semi-resmi Mehr, mengutip sumber resmi Iran, melaporkan bahwa tidak ada dialog yang terjadi antara Teheran dan Washington. Sumber tersebut menegaskan bahwa komentar Trump merupakan bagian dari upaya sistematis untuk menurunkan harga energi dunia sekaligus mengulur waktu pelaksanaan rencana militer yang telah disusun.

"Kami bukanlah pihak yang memulai perang ini, dan semua tuntutan tersebut harus diarahkan ke Washington," tegas sumber Iran tersebut. Meskipun demikian, sumber itu mengakui bahwa beberapa negara regional telah mengajukan berbagai inisiatif yang bertujuan meredakan ketegangan yang semakin meningkat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Klaim Trump tentang Percakapan Produktif

Sebelumnya, Donald Trump menyatakan melalui platform media sosial Truth Social bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian konflik di Timur Tengah. Trump mengklaim bahwa berdasarkan nada dan isi percakapan yang mendalam tersebut, ia telah memerintahkan penundaan selama lima hari untuk semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran.

"Saya senang melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah," tulis Trump dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa penundaan serangan militer tersebut bergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung.

Eskalasi Konflik yang Terus Meningkat

Situasi ini terjadi di tengah eskalasi regional yang terus meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini menyebabkan:

  • Korban jiwa di berbagai lokasi
  • Kerusakan infrastruktur yang signifikan
  • Gangguan pada pasar global dan operasi penerbangan

Konflik ini semakin kompleks dengan diluncurkannya rudal balistik canggih Sejjil oleh Iran dalam serangan terhadap Israel, menandai pertama kalinya senjata tersebut digunakan dalam konflik aktual. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan semakin meluasnya pertikaian yang dapat berdampak pada stabilitas ekonomi global, khususnya di sektor energi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga