Iran Bantah Dialog dengan Trump: Dituding Upaya Manipulasi Pasar Minyak
Iran Bantah Dialog dengan Trump, Tuding Manipulasi Pasar

Iran Tegaskan Tidak Ada Dialog dengan Trump, Tuding Upaya Manipulasi Pasar

Pemerintah Iran secara resmi membantah adanya dialog atau negosiasi yang sedang berlangsung dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap klaim-klaim yang beredar, dengan Iran menegaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari upaya Trump untuk memanipulasi pasar keuangan global dan pasar minyak internasional.

Bantahan Resmi dari Tokoh Iran

Dilansir dari AFP pada Selasa, 24 Maret 2026, bantahan ini disampaikan oleh Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen Iran dan salah satu tokoh non-klerikal paling terkemuka di negara tersebut. Ghalibaf dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada negosiasi apa pun yang sedang dilakukan dengan pemerintahan Trump.

"Trump berusaha untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta keluar dari rawa yang menjebak AS dan Israel," kata Ghalibaf dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa langkah ini dianggap sebagai strategi politik untuk mengalihkan perhatian dari situasi sulit yang dihadapi oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Iran

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, juga mengonfirmasi bahwa pesan telah diterima dari beberapa negara sahabat yang mengindikasikan permintaan AS untuk melakukan negosiasi. Tujuan negosiasi tersebut diklaim untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung.

"Namun, kami membantah bahwa pembicaraan semacam itu telah terjadi atau sedang dalam proses," tegas Baqaei. Ia menekankan bahwa Iran tetap berpegang pada posisinya dan tidak terlibat dalam dialog langsung dengan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump.

Respons dari Israel dan Situasi Mediasi

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengaku telah berbicara dengan Trump dan mengonfirmasi bahwa AS berpikir kesepakatan mungkin terjadi. Namun, Netanyahu berjanji untuk terus menyerang Iran dan Lebanon sebagai bagian dari upaya melindungi keamanan Israel.

"Trump percaya ada peluang untuk memanfaatkan pencapaian luar biasa IDF dan militer AS untuk mewujudkan tujuan perang dalam sebuah kesepakatan -- kesepakatan yang akan melindungi kepentingan vital kita," ujar Netanyahu. Ia menambahkan bahwa serangan terhadap Iran dan Lebanon akan terus dilakukan meskipun ada wacana negosiasi.

Meskipun Oman sebelumnya berperan sebagai mediator dalam pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran sebelum perang dilancarkan, kini muncul usulan untuk melibatkan negara-negara lain sebagai perantara alternatif. Mesir, Qatar, dan Pakistan telah diusulkan untuk mengambil peran tersebut, menunjukkan kompleksitas situasi diplomatik di kawasan tersebut.

Dengan demikian, situasi ini menyoroti ketegangan yang terus berlanjut antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, sambil mengungkap upaya-upaya diplomasi yang rumit di balik layar. Bantahan Iran terhadap dialog dengan Trump memperkuat posisi mereka yang menolak interaksi langsung, sementara tudingan manipulasi pasar menambah dimensi ekonomi dalam konflik politik ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga