Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, secara tegas membantah adanya negosiasi atau pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap laporan-laporan yang beredar mengenai kemungkinan dialog antara kedua negara yang berseteru.
Pesan Melalui Negara Sahabat dan Peringatan Keras
Baghaei mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, pesan-pesan telah disampaikan melalui negara-negara sahabat yang menunjukkan permintaan dari AS untuk melakukan negosiasi guna mengakhiri konflik. Namun, Iran menanggapi permintaan tersebut sesuai dengan posisi prinsipnya yang telah lama dipegang.
Dalam tanggapannya, Baghaei juga memberikan peringatan keras tentang konsekuensi serius dari setiap serangan yang menargetkan infrastruktur vital Iran. Dia menekankan bahwa setiap tindakan agresif terhadap fasilitas energi negara tersebut akan dihadapi dengan respons yang tegas, segera, dan efektif dari angkatan bersenjata Iran.
Posisi Tidak Berubah dan Bantahan Terhadap Klaim AS
Baghaei dengan jelas menyatakan bahwa posisi Iran mengenai Selat Hormuz dan syarat-syarat untuk mengakhiri perang tidak berubah. Dia juga membantah keras bahwa telah terjadi negosiasi atau dialog apa pun dengan AS selama 24 hari terakhir sejak pecahnya apa yang disebutnya sebagai perang yang dipaksakan.
Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim yang disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin (23/3/2026). Trump mengatakan bahwa pembicaraan baru-baru ini dengan Iran telah produktif, sebuah pernyataan yang langsung dibantah oleh pihak Iran.
Eskalasi Konflik dan Dampak Regional
Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai bentuk pembalasan, Teheran telah meluncurkan serangan menggunakan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, bersama dengan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini menyebabkan:
- Korban jiwa di berbagai lokasi.
- Kerusakan infrastruktur yang signifikan.
- Gangguan pada pasar global dan operasi penerbangan.
Konflik yang berkepanjangan ini tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan regional, tetapi juga mengancam perdamaian internasional dan menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global melalui Selat Hormuz.



