Iran Ajukan Lima Syarat Khusus untuk Akhiri Perang dengan Amerika Serikat
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel telah memasuki bulan pertama sejak pecah pada 28 Februari 2026. Konflik ini dipicu oleh serangan gabungan Israel dan AS yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran meluncurkan roket ke pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global.
Respons Iran terhadap Proposal Perdamaian AS
Di tengah eskalasi ketegangan, Amerika Serikat mengusulkan proposal perdamaian. Namun, Iran merespons dengan menolak tawaran tersebut dan mengajukan lima syarat spesifik untuk mengakhiri perang. Seorang pejabat senior bidang politik dan keamanan Iran, yang berbicara secara eksklusif kepada media Press TV, menegaskan bahwa pemerintah Iran tidak akan membiarkan Presiden AS Donald Trump mendikte waktu berakhirnya konflik.
"Iran akan mengakhiri perang ketika sudah memutuskan untuk melakukannya dan ketika syarat-syaratnya sendiri terpenuhi," kata pejabat tersebut, yang memilih untuk tidak disebutkan namanya. Dia menambahkan bahwa Teheran bertekad melanjutkan pertahanan dan memberikan "pukulan berat" kepada musuh sampai tuntutannya dipenuhi.
Lima Syarat Kunci dari Iran
Pejabat Iran itu menguraikan lima syarat yang harus dipenuhi oleh Amerika Serikat dan sekutunya untuk menghentikan perang. Syarat-syarat ini merupakan tambahan dari tuntutan sebelumnya yang diajukan selama negosiasi di Jenewa, tepat sebelum serangan 28 Februari. Berikut adalah daftar lengkapnya:
- Penghentian total "agresi dan pembalasan" oleh pihak musuh terhadap Iran.
- Pembentukan mekanisme konkret untuk memastikan bahwa perang tidak akan terulang kembali terhadap Republik Islam Iran.
- Pembayaran ganti rugi perang dan reparasi yang dijamin serta didefinisikan dengan jelas oleh pihak lawan.
- Penghentian perang di semua front dan untuk semua kelompok perlawanan yang terlibat di seluruh wilayah konflik.
- Pengakuan bahwa penggunaan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz adalah hak alami dan sah, serta menjadi jaminan untuk pelaksanaan komitmen pihak lain.
Pejabat tersebut menekankan bahwa syarat-syarat ini telah dikomunikasikan kepada semua perantara yang bertindak dengan itikad baik, dan gencatan senjata hanya akan berlaku jika semua poin diterima. "Tidak akan ada negosiasi yang diadakan sebelum itu," tegasnya.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mendukung pernyataan pejabat tersebut dengan menegaskan bahwa Teheran ingin mengakhiri perang dengan syarat-syaratnya sendiri. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, dilansir oleh kantor berita AFP, Araghchi menyatakan bahwa Iran menginginkan penghentian perang yang memastikan konflik tidak terulang lagi.
"Tentu saja, kami menginginkan penghentian perang dengan syarat-syarat kami sendiri, dan dengan cara bahwa itu tidak akan terulang lagi di sini," kata Araghchi. Dia juga menambahkan bahwa Iran tidak berencana untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat saat ini, dan kebijakan mereka adalah melanjutkan perlawanan. "Berbicara tentang negosiasi sekarang adalah pengakuan kekalahan," ujarnya.
Pejabat Iran sebelumnya telah membandingkan proposal AS dengan dua putaran negosiasi pada 2025, yang disebutnya sebagai penipuan karena Amerika Serikat kemudian melakukan agresi militer. Oleh karena itu, Teheran mengkategorikan tawaran terbaru melalui perantara Pakistan sebagai taktik untuk meningkatkan ketegangan, bukan solusi perdamaian yang tulus.



