Eks Bos CIA Kritik Trump: Krisis Minyak di Timur Tengah Buatannya Sendiri
Eks Bos CIA Kritik Trump Ciptakan Krisis Minyak Timur Tengah

Eks Bos CIA Kritik Trump: Dia yang Ciptakan Krisis Minyak di Timur Tengah

Jakarta - Mantan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) sekaligus eks Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, secara keras mengkritik Presiden AS Donald Trump atas krisis minyak yang melanda Timur Tengah. Menurut Panetta, Trump terjebak dalam dua pilihan sulit setelah tiga minggu perang di Iran dan mengirim pesan kelemahan kepada dunia internasional.

Kritik Pedas atas Kebijakan Trump

Dilansir dari The Guardian, Selasa (24/3/2026), Panetta yang pernah bertugas di pemerintahan Bill Clinton dan Barack Obama menyatakan bahwa Trump cenderung naif dalam menangani konflik. "Dia cenderung naif tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi," ujar Panetta, 87 tahun, melalui telepon. Ia menambahkan bahwa sikap seperti itu lebih pantas untuk anak-anak, bukan seorang presiden.

Panetta mengingatkan bahwa para pejabat keamanan nasional selalu menyadari kemampuan Iran dalam menciptakan krisis energi dengan memblokir Selat Hormuz. Namun, skenario itu kini terjadi, membuat Trump tidak memiliki strategi keluar yang jelas selain berangan-angan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Perang Iran yang Tak Terkendali

Perang Iran dimulai pada 28 Februari dengan harapan Trump akan memberikan pukulan telak. Serangan mendadak Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan AS serta Israel segera menguasai wilayah udara. Namun, konflik yang berkepanjangan justru semakin lepas kendali.

Lebih dari 1.400 warga Iran dan 13 anggota militer AS telah tewas, sementara Khamenei digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang dianggap lebih garis keras. Trump menghadapi tekanan domestik akibat harga minyak yang melonjak dan penurunan angka jajak pendapat.

Krisis Minyak Akibat Blokade Selat Hormuz

Rezim Iran membalas AS dan Israel dengan menutup Selat Hormuz, yang menyebabkan kekacauan di pasar energi global. Seperlima minyak dunia diperdagangkan melalui jalur air ini. Panetta menegaskan bahwa krisis ini adalah buatan Trump sendiri.

"Bukan hal yang sulit dipahami bahwa jika Anda berperang dengan Iran, salah satu kerentanan terbesar adalah Selat Hormuz, dan itu dapat menciptakan krisis minyak besar," kata Panetta. Ia menyayangkan bahwa pemerintahan Trump tidak mempertimbangkan konsekuensi ini atau mengira perang akan berakhir cepat.

Pilihan Sulit dan Isolasi Diplomatik

Trump kini menghadapi dilema: memperluas perang dengan membuka Selat Hormuz atau menyatakan kemenangan meski gagal. Panetta menilai Trump tidak akan mendapatkan gencatan senjata selama Iran terus mengancam dengan blokade selat tersebut.

Selain itu, Trump dianggap mengisolasi diri dengan meremehkan sekutu. Ia merahasiakan rencana perang dari NATO dan mengejek anggotanya sebagai "pengecut". Panetta berkomentar, "Jika Anda merencanakan perang, bukan ide buruk untuk berbicara dengan sekutu Anda."

Rekomendasi dan Peringatan untuk Masa Depan

Panetta menyarankan Trump untuk meninggalkan pemikiran khayalan dan menghadapi kenyataan dengan menggunakan militer untuk membuka Selat Hormuz. Meski akan ada korban jiwa dan perang bisa meluas, ia melihat tidak ada alternatif lain.

"Ini adalah ujian apakah Amerika Serikat mampu mengatasi situasi tersebut," tambah Panetta. Jika gagal, krisis ini tidak hanya memperpanjang perang tetapi juga berpotensi menyebabkan resesi global akibat lonjakan harga bahan bakar. Panetta menutup dengan peringatan, "Karma akan segera datang."

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga