Diplomat PBB Mundur Usai Ungkap Persiapan Skenario Serangan Nuklir ke Iran
Diplomat PBB Mundur Ungkap Skenario Serangan Nuklir Iran

Diplomat Senior PBB Mundur Usai Ungkap Persiapan Skenario Serangan Nuklir ke Iran

Seorang diplomat senior yang terkait dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengundurkan diri dari jabatannya, setelah mengklaim bahwa badan dunia itu sedang bersiap untuk menghadapi skenario yang melibatkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran, di tengah perang yang terus berkecamuk. Mohamad Safa, yang menjabat sebagai perwakilan utama Patriotic Vision (PVA) di PBB, mengumumkan pengunduran dirinya melalui unggahan di media sosial X, disertai dengan surat yang menjelaskan alasan-alasan di balik keputusannya tersebut.

Pengunduran Diri dan Klaim Kontroversial

Dalam pengumuman resmi yang dibagikan via media sosial X, Safa menyatakan bahwa dirinya mengambil keputusan untuk mundur setelah melalui banyak pertimbangan. Dia mengklaim bahwa beberapa tokoh senior di PBB lebih melayani lobi-lobi yang kuat daripada melayani kepentingan organisasi internasional tersebut. "Setelah banyak pertimbangan, dan setelah menjadi jelas bagi saya bahwa beberapa pejabat senior PBB melayani lobi yang kuat dan bukan melayani PBB, saya telah memutuskan untuk menangguhkan semua tugas saya sebagai Perwakilan Utama PVA di PBB dan dari semua komite/kelompok PBB yang saya menjadi anggotanya," tulis Safa dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, Safa menegaskan bahwa dia tidak dapat dengan hati nurani yang baik menjadi bagian dari atau menyaksikan apa yang terjadi, terutama saat PBB sedang bersiap untuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir. "Saya tidak dapat dengan hati nurani yang baik, menjadi bagian dari atau menyaksikan apa yang terjadi pada saat PBB sedang bersiap untuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir," ujarnya dengan nada prihatin.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Postingan Viral dan Ancaman Kemanusiaan

Dalam postingan terpisah yang telah dibaca lebih dari 9 juta kali di media sosial X, Safa memposting foto Teheran, ibu kota Iran, sembari mengungkapkan kekhawatirannya tentang kemungkinan penggunaan senjata nuklir di negara tersebut selama perang yang masih berlangsung. Dia menyebut bahwa PBB sedang mempersiapkan skenario untuk menghadapi situasi tersebut, dan menyerukan perhatian global terhadap bahaya yang mengintai.

"Saya pikir orang-orang tidak memahami betapa seriusnya situasi ini karena PBB sedang bersiap untuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran," kata Safa dalam postingannya. Dia menggambarkan Teheran sebagai kota dengan hampir 10 juta jiwa penduduk, menekankan bahwa serangan nuklir akan berdampak pada keluarga, anak-anak, hewan peliharaan, dan orang-orang kelas pekerja biasa dengan mimpi-mimpi mereka.

Safa juga meminta para pengikutnya untuk membayangkan jika kota-kota besar seperti Washington, Berlin, Paris, atau London dibom dengan senjata nuklir, seraya mengecam mereka yang dianggapnya mendukung perang. "Anda sakit jiwa karena menginginkan perang," tulisnya dengan nada keras.

Motivasi dan Tekanan yang Dihadapi

Di balik keputusannya untuk mundur, Safa mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya ingin mengundurkan diri sejak tahun 2023, namun berusaha untuk bersabar selama tiga tahun terakhir. Dia merujuk pada rentetan konflik di berbagai negara dan menyebut bahwa beberapa pejabat PBB tidak ingin menuduh Amerika Serikat dan Israel melanggar hukum internasional, yang menurutnya memperburuk situasi.

Safa juga menuturkan bahwa dirinya menghadapi kritikan tajam dan bahkan menerima ancaman pembunuhan setelah mengungkapkan kekhawatirannya serta menawarkan perspektif yang berbeda menyusul serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023, yang memicu perang di Jalur Gaza. Tekanan ini semakin memperkuat tekadnya untuk meninggalkan karier diplomatiknya.

"Saya meninggalkan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini. Saya menangguhkan tugas saya agar tidak menjadi bagian dari atau menyaksikan kejahatan terhadap kemanusiaan ini, dalam upaya mencegah musim dingin nuklir sebelum terlambat," ucap Safa dengan penuh emosi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Seruan untuk Aksi Global

Dalam pernyataan penutupnya, Safa menyerukan agar kemungkinan penggunaan senjata nuklir ditanggapi dengan sangat serius oleh masyarakat dunia. Dia mendesak orang-orang untuk bertindak sekarang, menyebarkan pesan ini ke seluruh dunia, turun ke jalan, dan berunjuk rasa demi kemanusiaan dan masa depan bersama. "Hanya rakyat yang dapat menghentikannya. Sejarah akan mengingat kita," cetusnya dengan harapan dapat membangkitkan kesadaran global.

Pengunduran diri Safa ini menyoroti ketegangan internasional yang terus meningkat terkait konflik di Iran dan potensi eskalasi militer, sekaligus mempertanyakan peran PBB dalam menjaga perdamaian dunia. Organisasi Patriotic Vision (PVA), tempat Safa bernaung, merupakan organisasi internasional yang memiliki status konsultatif khusus pada Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC), menambah bobot pada klaim-klaim yang diungkapkannya.