China Serukan Navigasi Tanpa Hambatan di Selat Hormuz
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyerukan navigasi "tanpa hambatan" di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang vital bagi perdagangan global. Seruan ini disampaikan dalam konferensi pers di Beijing pada Senin, 13 April 2026, sebagai respons atas perintah blokade Selat Hormuz oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Blokade itu dikeluarkan setelah perundingan damai antara AS dan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.
Pentingnya Stabilitas Jalur Perdagangan
Guo Jiakun menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan internasional yang krusial untuk barang dan energi. "Menjaga keamanan, stabilitas, dan kelancaran arus adalah kepentingan bersama komunitas internasional," ujarnya, seperti dilansir AFP. China berharap agar AS dan Iran tidak menyulut kembali perang di Timur Tengah, mengingat kegagalan perundingan baru-baru ini.
Dalam pernyataannya, Guo mendesak pihak-pihak terkait untuk:
- Mematuhi perjanjian gencatan senjata sementara.
- Menyelesaikan perselisihan melalui cara-cara politik dan diplomatik.
- Menghindari berkobarnya kembali perang.
- Menciptakan kondisi untuk kembalinya perdamaian di kawasan Teluk secepatnya.
Dampak Perang dan Blokade AS
Selat Hormuz, sebagai salah satu jalur utama pengiriman minyak dan gas global, telah terdampak perang antara AS dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari. Selama konflik berkecamuk, Iran secara efektif membatasi aktivitas perlintasan di selat tersebut, meskipun mengizinkan kapal-kapal dari negara sahabat seperti China untuk melintas. Bahkan, ada laporan belum dikonfirmasi bahwa Teheran berencana memungut tarif tol bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Situasi semakin memanas setelah Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz, karena kemarahan atas penolakan Iran melepaskan ambisi nuklirnya. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa blokade semua pelabuhan Iran dimulai pada Senin, 13 April waktu setempat.
Respons Iran dan Dukungan Internasional
Militer Iran mengecam blokade laut AS sebagai ilegal dan menyamakannya dengan pembajakan. Teheran juga memperingatkan bahwa tidak ada pelabuhan di kawasan Teluk yang akan aman jika pelabuhan-pelabuhan Iran sendiri terancam.
Selain China, Turki juga menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz "sesegera mungkin". Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan bahwa Ankara mendukung pembukaan secara damai, menekankan bahwa dunia menginginkan navigasi bebas dan tanpa gangguan melalui selat tersebut. Seruan ini mencerminkan keprihatinan internasional atas destabilisasi kawasan yang dapat mengganggu pasokan energi global.



