Blokade Selat Hormuz oleh Trump Dinilai Sangat Berisiko, Apa Dampaknya?
Blokade Selat Hormuz Trump Berisiko, Apa Dampaknya?

Blokade Selat Hormuz oleh Trump Dinilai Sangat Berisiko, Apa Dampaknya?

Setelah tim diplomatik yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan untuk mengakhiri perang AS-Iran pada Sabtu (11/04), Presiden Donald Trump mengumumkan langkah selanjutnya melalui unggahan di Truth Social pada Minggu (12/04) pagi.

AS akan memberlakukan blokade laut terhadap Iran, tulis Trump, dengan menyatakan bahwa tidak ada yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas. Dia juga menegaskan bahwa AS akan terus membersihkan ranjau di Selat Hormuz untuk menjamin keamanan pelayaran kapal-kapal sekutu, sementara militer AS berada dalam posisi siap tempur dan siap melanjutkan serangan pada waktu yang tepat.

Perbedaan Pandangan dalam Negosiasi

Trump menyebutkan bahwa meski ada kemajuan dalam perundingan 20 jam di Islamabad, Iran tidak bersedia memenuhi tuntutan AS untuk menghentikan ambisi nuklirnya. Namun, seorang pejabat AS yang memahami jalannya negosiasi membantah pandangan ini, mengungkapkan daftar perbedaan yang lebih panjang, termasuk kendali Iran atas Selat Hormuz dan dukungannya terhadap kelompok proksi seperti Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Meski unggahan Trump tidak lagi mengandung retorika apokaliptik seperti ancaman pekan lalu, pernyataan ini tetap menghadirkan tantangan dan risiko baru bagi AS. Beberapa pertanyaan kritis muncul, seperti apakah kegiatan pembersihan ranjau akan menempatkan kapal Angkatan Laut AS pada risiko serangan Iran, bagaimana AS menentukan siapa yang membayar pungutan kepada Iran, dan apakah AS akan menggunakan kekuatan terhadap kapal asing yang mengabaikan blokade.

Dampak Ekonomi dan Respons Global

Pertanyaan lain mencakup bagaimana negara-negara bergantung minyak Iran, seperti China, akan merespons, dan apakah langkah ini justru akan mendorong harga minyak naik lebih tinggi. Tidak ada jawaban jelas atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pada Minggu sore, Komando Pusat Militer AS mengumumkan bahwa blokade akan menghentikan seluruh kapal menuju atau dari pelabuhan Iran, ketentuan yang berbeda dari rencana awal Trump.

Senator Mark Warner dari Partai Demokrat mengkritik langkah ini, menyatakan tidak memahami bagaimana memblokade selat akan mendorong Iran membukanya kembali. Sementara itu, anggota Kongres Partai Republik Mike Turner berargumen bahwa blokade adalah cara untuk memaksakan penyelesaian di Selat Hormuz, dengan memanggil sekutu dan pihak terkait untuk berunding.

Dilema Politik dan Risiko Pemilu

Pekan lalu, sebelum gencatan senjata dua pekan disepakati, Trump berada dalam posisi sulit antara meningkatkan serangan AS atau mundur dari perang yang tidak populer. Jajak pendapat CBS menunjukkan 59% warga AS menilai perang berjalan buruk bagi AS. Tujuan utama AS, seperti menjaga Selat Hormuz terbuka dan mengakhiri program nuklir Iran, masih belum tercapai, dengan mayoritas dari kedua partai menilai pencapaian ini penting.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump meyakini Iran akan memberikan semua yang diinginkan AS, dan ekonomi AS mampu bertahan meski harga minyak mungkin naik. Namun, dengan pemilihan paruh waktu November mendekat, Partai Republik berpotensi menanggung kerugian besar jika perhitungan Trump keliru.

Konteks Perang dan Ketidakpastian

Saat perundingan berlangsung di Pakistan, Trump justru menghadiri pertandingan UFC di Miami, menonton laga brutal dan berdiskusi dengan penasihat di depan publik. Pertarungan dalam arena memiliki aturan jelas dan batas waktu, berbeda dengan perang Iran yang memasuki bulan kedua dengan gencatan senjata di ambang kehancuran.

Konflik ini telah berubah menjadi adu keteguhan antara kemampuan Iran bertahan dan kesediaan Trump menanggung beban ekonomi serta tekanan politik. Pada akhirnya, semua pihak terlibat bisa keluar dalam keadaan dirugikan, menekankan kompleksitas dan risiko tinggi dari blokade Selat Hormuz ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga